Tulisan Oleh: Muh. Ilham

Mereka bilang aku ini cacat fisik
hanya karena tak dapat berjalan.
Mereka bilang aku ini buta
hanya karena tak dapat melihat dunia.
Mereka bilang aku bisu
hanya karena perbedaan cara berbicara.

Apapun yang mereka bilang,
tetaplah ini menjadi sebuah kesyukuran.
Aku selalu bermimpi
untuk berdiri sejajar dengan mereka.
Aku selalu membayangkan
diriku dapat diterima oleh mereka.
Aku selalu berpikir,
kenapa mereka membedakanku?

Siapa sebenarnya aku?
Tidak peduli baik atau buruk,
mereka selalu melihat bentukan luarnya saja
tanpa mau melihat sejuta usaha
untuk sejajar dengan mereka.

Apa itu kesetaraan?
Apakah itu hanya sebuah impian yang semu?
Apakah itu hanya dongeng berlalu?
Apakah itu hanya kata-kata yang manis?

Berapa kalipun aku berpikir,
berapa kalipun aku berusaha,
berapa kalipun aku bercerita—
namun hal itu tetap membuat mereka
tak menganggap siapa-siapa.

Aku selalu di bawah,
merasakan sisa-sisa kehidupan
yang tak akan pernah menghargai caraku melakukan.

Aku selalu jadi bahan inspirasi,
namun mereka tak sekalipun peduli.
Aku selalu menjadi bahan motivasi,
namun selalu dianggap tak berpartisipasi.
Aku selalu dijadikan bahan refleksi,
namun tak diberikan kesempatan beraksi.

Mereka selalu berasumsi tentangku
tanpa mau menanyai perasaanku.
Mereka selalu membanggakanku,
tapi di lain sisi mereka juga merendahkanku.

Aku hanya ingin dianggap sama,
menjadi seorang teman untuk bercerita,
atau berbaur dengan normal
tanpa ada yang menganggap tidak normal.

Aku bukan orang cacat,
karena aku juga bisa berlari cepat.
Aku bukan orang buta,
karena aku bisa meraba dunia.
Aku bukan orang bisu,
karena aku bisa berpengaruh.

Semua itu hanyalah asumsi mereka.

Siapakah aku?
Hanya Tuhan yang tahu.
Manusia telah diciptakan
dengan sebaik-baik bentuk,
tanpa menilai kekurangan.
Semua orang sama di mata Tuhan,
karena kita bisa berpartisipasi,
meskipun harus tersakiti.

Aku adalah manusia ciptaan Tuhan,
yang mau dianggap sama
seperti manusia yang lain.

Aku adalah seorang dengan disabilitas,
individu yang ingin dihargai karena kualitas,
bukan orang yang direndahkan
karena tidak berintegritas

Kosmik

Share
Published by
Kosmik

Recent Posts

GCC Kosmik Unhas Hadirkan Ruang Interaksi Kultural Melalui Kosmik Kamp

Tulisan oleh: Sitti Zaenab Al-Fitriyah Green Communication Club (GCC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas…

3 days ago

Memperkuat Ikatan Biru Merah melalui Buka Puasa Bersama IKA Ilmu Komunikasi Unhas

Tulisan oleh: Nadine Arsetya Prabowo Ikatan Alumni (IKA) Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kegiatan Buka…

1 month ago

Basic Cyber Class Kosmik Unhas Bekali Mahasiswa Navigasi Dunia Digital

Tulisan Oleh: Nur Muthya Salwa Communication Cyber Club (CCC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas…

1 month ago

Broadcasting Class Sukses Digelar, Bahas Dunia Penyiaran Secara Mendalam

Tulisan Oleh: Aflahulkhalis Broadcasting Class sukses diselenggarakan oleh Biro Broadcasting Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik)…

1 month ago

Kosmik Unhas Kembali Selenggarakan Broadcasting Class 2026

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Biro Broadcasting Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOSMIK) Universitas Hasanuddin (Unhas) mengadakan…

1 month ago