Anak dan Orang Tua: Sebuah Keresahan

0
446

Teks oleh: Jabal RH

Foto oleh: Kifo Kosmik/Asry Badawi

Banyak anak banyak rezeki, demikian salah satu pepatah dulu yang menyinggung soal betapa berharganya anak. Setiap orang tua, tentunya mendambakan buah hati. Setiap orang tua, memiliki pengharapan tersendiri kepada anak – anaknya. Sehingga tak mengherankan jika tercipta pulalah beragam metode dan pola didik yang diterapkan oleh masing – masing orang tua. Sebab pola didiklah yang menjadi implementasi dari harapan orang tua kepada anaknya.

Dalam budaya bugis, anak dipandang sebagai seorang pattola palallo bagi orang tuanya. Sehingga, seorang anak harus diberikan yang terbaik. Utamanya dalam membentuk pribadinya agar suatu hari nanti, ia dapat menggantikan orang tuanya (pattola) dengan pencapaian yang lebih baik dari orang tuanya (palallo).

Bagi sebagian orang tua, anak adalah bidak raja dalam permainan catur yang keselamatannya adalah harga mati. Hingga akhirnya tak jarang orang tua menjadi sangat posesif kepada anaknya sendiri. Ada pula orang tua yang menganggap anaknya hanya sekadar sebagai pelanjut generasi jika suatu hari nanti ia pergi meninggalkan dunia. Hingga akhirnya ia tampak tidak peduli dengan anaknya. Demikian banyak cara orang tua memandang anaknya, sehingga wajar rasanya jika perlakuan orang tua kepada anaknya demikian beragamnya. Terkadang sampai menimbulkan rasa iri antara masing – masing anak melihat hubungan teman sebayanya dengan orang tuanya.

Akhirnya, setiap orang punya implementasi tersendiri dalam mendidik anaknya. Seperti yang lazim kita ketahui, pendidikan ada tiga jenis, pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non-formal. Dewasa ini, dengan berkembangnya beragam pekerjaan yang menyita waktu, akhirnya banyak orang tua yang menyerahkan pendidikan anaknya kepada sekolahnya seutuhnya. Sedangkan sekolah, yang banyak menerima anak didik setiap tahunnya akhirnya membuat kurikulum pendidikan massal yang beriorientasi pada satu hal, nilai di atas kertas.

Sehingga, tak heran jika sekarang ini, kita bisa melihat ada demikian banyak orang tua yang merasa pesimis dengan masa depan anaknya dengan berpatokan dengan nilai – nilai yang diperolehnya di sekolah. Padahal, seperti yang diutarakan oleh Howard Gardner, setiap anak ketika dilahirkan di dunia telah dikaruniai sebauh multiple intelegence (IM), dimana ia percaya bahwa setiap anak memiliki kecerdasan di bidangnya masing – masing. Sesuatu yang tidak mungkin kita bisa harapkan bisa diwujudkan oleh sistem pendidikan formal yang berbasis kepada penyeragaman pola didik kepada murid.

Kini, kita tak perlu heran ketika kita mendapati kenyataan ada banyak anak yang putus sekolah diakibatkan si anak frustasi dengan raihan prestasi belajarnya. Ada juga orang tua yang memutuskan tak melanjutkan pendidikan anaknya ke jenjang ke lebih tinggi karena terlanjur kecewa dengan capaian si anak. Sebab pendidikan formal kita berbasis kepada nilai yang diperoleh ketika melewati ujian – ujian tertentu. Padahal, jika kita melihat konsep pendidikan negara lain, ada demikian banyak perbedaan yang bisa kita temui.

Di Jepang, selama sembilan tahun pendidikan, anak tak mendapatkan ujian kenaikan kelas. Hal ini didasari pemahaman pemerintah Jepang bahwa pendidikan di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan compulsory education (Pendidikan wajib). Sehingga haram hukumnya untuk merintangi kewajiban warga di negeri matahari terbit tersebut. Di Finlandia, pihak sekolah kerap kali meniadakan pelajaran yang melibatkan perhitungan seperti matematika, sebab mereka sadar bahwa pelajaran seperti matematika lah yang kerapkali menjadi biang kerok banyaknya anak frustasi dengan sekolahan.

Setiap proses pendidikan formal memerlukan dukungan dari orang tua. Bukan hanya sekadar dukungan modal dan moral namun jua pendampingan. Sebab ketiga jenis pendidikan harus tetap berjalan berdampingan. Tanpa pendidikan informal yang didapatkan di lingkungan keluarga, anak hanya akan berada jauh dari orang tuanya. Hingga akhirnya dia menjadi pribadi yang cenderung tidak merasa dicintai oleh orang tuanya. Hingga fenomena anak yang melawan orang tua sudah banyak terjadi.

Pada akhirnya, anak adalah titipan dari Tuhan. Bukan milik orang tuanya, sehingga orang tua harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar kepada anaknya. Orang tua tak semestinya lepas tangan terhadap pendidikan anaknya karena yang memberikan kebahagian bukanlah banyaknya uang yang masuk ke dalam dompet, namun lebih kepada hati yang merasa dicintai. Karena cinta lah yang membuat segalanya lebih indah.

Selain itu, sebenarnya setiap anak takkan mampu menjadi seorang pattola palallo. Karena setinggi – tingginya pencapaian seorang anak, orang tuanya jauh lebih hebat lagi, sebab mereka mampu mewujudkan anaknya yang melampaui pencapaiannya. Hingga pada akhirnya, sesungguhnya tak ada anak yang lebih hebat dari orang tuanya. Namun, orang tua tak boleh pula lepas tangan terhadap anaknya hingga malah menjadikan anaknya tak lebih dari sekadar manifestasi sebuah hubungan pernikahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × four =