Eksklusivitas Gerakan Feminisme

0
52
illustrasi oleh : freepik.com

Untuk mengubah stereotip masyarakat tentang perempuan bukanlah perjuangan yang mudah. Namun, usaha yang tidak kenal lelah oleh seorang Kartini berhasil membawa perempuan Indonesia pada tempat yang jauh lebih baik. Perjuangan beliau sampai hari ini bahkan terus berlanjut. Misalnya setelah melalui proses bertahun-tahun lamanya, bahkan sempat menerima penolakan oleh partai-partai konservatif yang ada di DPR, akhirnya tepat pada selasa 12 April 2022 Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual disahkan menjadi Undang-Undang TPKS. Ini menjadi capaian yang luar biasa. Bagi saya, pengesahan UU TPKS merupakan langkah yang cukup progresif dari pemerintah Indonesia. harapannya semoga peristiwa ini juga menjadi sinyal positif yang menunjukkan bahwa negara kita akan membangun kepedulian lebih tentang isu perempuan dan kesetaraan gender.

Namun pada momentum hari kartini tahun ini, saya menyadari sesuatu saat membuka Instagram saya. Ada begitu banyak pamflet webinar, video pendek, atau konten-konten lain tentang Gerakan dan edukasi feminisme yang beredar di media sosial. Sayangnya, kebanyakan dari konten tersebut terlalu eksklusif menargetkan perempuan. Misalnya, membuat webinar dengan tema feminisme yang semua narasumbernya merupakan perempuan atau dengan persyaratan peserta hanya boleh diakses oleh perempuan. Bukankah ini akan menciptakan dunia di mana hanya perempuan yang paham dan menaruh perhatian lebih tentang konsep kesetaraan yang mereka perjuangkan?

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan lebih banyak menjadi korban utama dari patriarki. Perempuan pun perlu menyadari status mereka sebagai korban dan bangkit dari titik tersebut agar mereka dapat memimpin gerakan emansipasi mereka sendiri. Saya juga meyakini bahwa perempuan tidak membutuhkan emansipasi perempuan yang dipimpin oleh seorang lelaki. Namun, di sisi lain jika tujuan kita pada akhirnya adalah kesetaraan, sudah seharusnya isu kesetaraan dinarasikan untuk keduanya, baik pada laki-laki maupun perempuan. Maka dari itu, terasa cukup janggal melihat bahwa edukasi dan narasi kesetaraan ini nampak eksklusif hanya di gembar-gemborkan untuk perempuan saja.

Padahal jika kita telusuri, gerakan ini timbul karena para perempuan tertekan oleh konsep patriarki yang menganggap laki-laki lebih superior dibanding perempuan, Hal inilah yang membuat perempuan rentan terhadap diskriminasi. Maka dari itu, saya meyakini bahwa laki-laki juga harus memiliki segmentasi tersendiri untuk membahas konsep feminisme dan kesetaraan. Ditambah lagi, laki-laki kadang tidak sadar bahwa mereka juga merupakan korban dari konsep patriarki. Mereka diharuskan untuk selalu terlihat lebih kuat dibanding perempuan. Konyolnya, demi menjawab ekspektasi ini, mereka kadang menjadi egois bahkan sampai tak sadar mendiskriminasi perempuan. Maka dari itu, kita juga perlu membangun kepekaan lebih pada laki-laki agar mereka memiliki persepsi yang sama dengan perempuan tentang konsep kesetaraan yang ingin dicapai.

Sama seperti perempuan yang tidak membutuhkan rasa kasihan oleh laki-laki dalam melakukan gerakan feminisme, laki-laki juga tidak boleh melakukan gerakan feminisme ini hanya karena mereka kasihan pada perempuan. Jika lelaki bersuara soal feminisme hanya atas dasar kasihan tanpa mengetahui esensinya, maka sebaiknya jangan. Mereka harus secara sadar melakukan gerakan feminisme dengan keyakinan bahwa mereka melakukan sebuah kebenaran. Untuk menciptakan kesadaran tersebut, maka edukasi tentang feminisme tidak boleh eksklusif hanya digalakkan pada perempuan saja. Edukasi tersebut harus dibangun dua arah agar konsep kesetaraan yang diraih tidak melenceng dari apa yang diimpikan. Saya meyakini bahwa kesetaraan tidak akan tercapai melalui gerakan yang bersifat eksklusif. Maka libatkan semuanya atau tidak sama sekali.

Teks oleh: Abd. Salam Saputra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × two =