Categories: Resensi Film

Film Coco, Petualangan Mimpi yang Termaktub

Judul Film: Coco
Tahun Rilis: 2017
Sutradara: Lee Unkrich, Adrian Molina
Genre: Animation, Mystery, Adventure, Family, Comedy, Fantasy, Musical
Durasi: 109 Menit
Studio: Walt Disney Pictures

Film Coco ini terinspirasi dari kebudayaan Meksiko yang khas serta perayaan hari libur nasional Die De Muertos atau yang juga dikenal dengan Day of The Death. Kepercayaan Meksiko akan adanya reuni keluarga besar antara dua alam yang berbeda –  yaitu kehidupan dan kematian – merupakan cara film ini menyampaikan pesan.

Film dengan alur cerita yang dapat membuat kita takjub ini berkisah tentang Miguel, seorang anak berumur 12 tahun yang ingin mengejar mimpinya menjadi seorang musisi namun dibatasi oleh larangan dari keluarganya. Keluarga Miguel mempunyai trauma bahkan kebencian yang sangat besar akan musik karena masa lalu yang kelam membuat keluarga tersebut akhirnya memilih untuk meninggalkan musik dan lebih memilih membuka usaha pembuatan sepatu. Di sinilah peran dari kepercayaan Meksiko tersebut mampu  membawa Miguel menggapai mimpinya.

Secara garis besar, film Coco ini merupakan film keluarga. Banyak pesan tentang kekeluargaan yang dapat kita temui. Misalnya ikatan batin keluarga yang kuat dan nilai-nilai luhur yang disampaikan melalui  Die De Muertos yang bukan merupakan hari penuh duka, melainkan perayaan untuk menumbuhkan kembali memori bersama orang yang telah tiada, hingga pada akhirnya menumbuhkan rasa bahagia.

Alur cerita dari film Coco sendiri sangat sederhana, konflik dikemas dengan cara yang berkesan. Selain itu, film ini mempunyai twist ending yang memikat, membuat para penonton penasaran akan akhir dari cerita. Melalui film ini, saya percaya Pixar memang bisa meluncurkan film-film terbaik seperti Inside Out, Finding Dory, Cars dan sebagainya.

Dari sisi sinematografi, film animasi ini dikemas dengan warna-warni yang memikat dan setiap subjek dan objek dalam film tersebut tampil sangat baik serta unik, khususnya ketika menyajikan Land of The Death yang jauh dari ekspektasi penonton. Musik yang dipersembahkan dalam film ini juga sangat indah, membawa penonton merasakan kebudayaan Meksiko yang sebenarnya. Selain musik, kostum yang digunakan para pemain pun sangat mengesankan, style khas Meksiko menambah nilai tambah bagi film ini.

Selain menyiratkan pesan tentang makna-makna kekeluargaan, film ini juga banyak memberi pelajaran tentang percintaan dan mimpi yang patut dikejar. “Tidak ada yang dapat menyangkal diri kita siapa. Jika kau dilahirkan menjadi musisi, maka itulah dirimu,” Salah satu dialog dalam film tersebut memberikan kita nasehat mendalam bahwasanya mimpi sejatinya telah termaktub dalam takdir hidup, sebagaimana mimpi Miguel dalam film yang telah tertulis dalam takdir hidupnya.

Film karya Pixar Animation dibawah kuasa Disney Pictures memang tidak pernah mengecewakan, saya memberinya nilai 8.6 dari 10. (Sukmawaty Agustiani)

Kosmik

Recent Posts

GCC Kosmik Unhas Hadirkan Ruang Interaksi Kultural Melalui Kosmik Kamp

Tulisan oleh: Sitti Zaenab Al-Fitriyah Green Communication Club (GCC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas…

2 weeks ago

Memperkuat Ikatan Biru Merah melalui Buka Puasa Bersama IKA Ilmu Komunikasi Unhas

Tulisan oleh: Nadine Arsetya Prabowo Ikatan Alumni (IKA) Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin menyelenggarakan kegiatan Buka…

1 month ago

Basic Cyber Class Kosmik Unhas Bekali Mahasiswa Navigasi Dunia Digital

Tulisan Oleh: Nur Muthya Salwa Communication Cyber Club (CCC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas…

1 month ago

Broadcasting Class Sukses Digelar, Bahas Dunia Penyiaran Secara Mendalam

Tulisan Oleh: Aflahulkhalis Broadcasting Class sukses diselenggarakan oleh Biro Broadcasting Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik)…

2 months ago

Kosmik Unhas Kembali Selenggarakan Broadcasting Class 2026

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Biro Broadcasting Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOSMIK) Universitas Hasanuddin (Unhas) mengadakan…

2 months ago