Mari Bercerita

0
52

Tulisan Oleh : Ichwan Aziizi | Kolase Oleh : Ichwan Aziizi

Di zaman yang serba modern ini; canda, ini bukan tulisan jurnal penelitian atau latar belakang skripsi mahasiswa strata satu yang harus berawalan pada fakta fenomena di sekitaran, melainkan tulisan liar berisikan banyak hal yang berkaitan dengan perjalanan yang sedang dijelajahi. Namun, tidak menutup kemungkinan yang saya tuliskan juga berdasar kenyataan. 

Tulisan ini bisa juga hanya imaji yang coba saya tuliskan dengan kebohongan-kebohongan yang menyerupai realiti. Membingungkan bukan? Selayaknya kita yang terkadang lebih nyaman membicarakan konspirasi hasil karangan sendiri, sampai melempar topik pada obrolan yang enggan untuk diakhiri. Kadang berdasar fakta, walau lebih banyak bercandanya. Semua dibahas, seolah yang akan dihadapi adalah akhir yang abadi.

Tak jarang, kita nyaman untuk saling mengeluhkan keadaan, seperti mengkritik aturan-aturan dan mengagendakan sesuatu untuk dilakukan beberapa tahun ke depan. Padahal, tak jarang hal yang kita keluhkan dan agendakan akan terlupakan dua hingga tiga minggu kemudian. Selain mengeluh dan mengagendakan, acapkali kita membahas persoalan yang bahkan andil kita pun tidak diperlukan. Serta hal remeh-temeh yang berhasil memusingkan kepala. Kita nyaman untuk saling bertukar cerita. 

Bercerita adalah satu dari sekian banyak hal yang dekat dengan kita. Sering kali kata per kata yang kita lepas lebih lama habis ketimbang rentetan menu yang kita pesan. Pandanganmu, padangan mereka, dan pandangan kalian tentang sesuatu, tidak akan pernah menjadi hal yang membosankan untuk saya. Pembicaraan lucu juga tak mau absen dari pembahasan yang kita lontarkan, tawa pun tak dapat dihindarkan, membanjiri ujung jalanan yang kita singgahi. Tak heran, sepasang mata di samping kanan dan kiri pun turut memperhatikan apa yang kita lakukan, tapi sayangnya mereka tak paham kebahagiaan yang kita rasakan.

Bercerita bagi saya menjadi hal yang tabu untuk tidak dilakukan. Bercerita bisa jadi self healing bagi sebagian dari kita dan mereka. Maka, seperti judul tulisan ini, mari bercerita. Bercerita sambil berangan di sela-sela angin, sambil sesekali memberi amin, pada ingin yang seringkali kita sisipi kata mungkin.

Untuk mengawali Oktober dan mengakhiri tulisan ini, terima kasih saya ucapkan untuk semua cerita yang hadir dan semua orang yang terlibat di dalamnya. 

-unjay

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =