Memukul Kemarahan

Penulis : Gilang Ramadhan

0
543

Penulis : Gilang Ramadhan | Kolase : Tori Andillo

/I/

Pagi hari,

Kau melihat pintu berkiblat dari arah yang tak kau kira.

Ia menjelma menjadi kalimat fasih yang dulu kau telantarkan.

Telingamu bebal, lalu bibirmu gentar berucap,  kalah dengan sepi yang bersarang di ujung dadamu.

/II/

Pukul sebelas, seberkas sinar merayap dari tepian jemarimu,

Kau mengira waktu telah usai mempermainkan detak yang tak bisa kau dentumkan.

/III/

Pada hujan yang kesekian, petir mengutuk degup yang menjalar dari balik nadimu.

Kau menyadari, mencintai tanpa memiliki adalah pertaruhan yang tidak akan pernah dimenangkan.

Sementara di ujung kamarmu, kesunyian tetap menjadi sekutu yang paling baik untuk mengiklaskan pedih,

 yang menjelma sebagai kepergian dari sisa-sisa mimpimu.

/IV/

Pada malam ke tujuh belas, di tengah perjalanan,

Kau menjumpai kesendirian menyambangi kehampaan.

Entah mengapa, kau terus kebingungan mencari pembenaran,

Sementara titik pulang yang kau tuju tidak lebih dari bentuk kepasrahan,

Yang tunduk pada ketidakmampuanmu mengabadikan kenangan.

/V/

Kau sesekali menoleh ke arah cermin, tempat tatapanmu melebur.

Lalu bertanya : Sudah berapa lama air mata ini tak lekas berhenti mengucur?

Sunyi, tidak ada jawaban, selain sesak yang telah lama terkubur

/VI/

Di ujung jendela,

Kau mulai mengulang memori demi memori,

Menyatukan kembali pecahan demi pecahan,

Hingga kau menyadari, pecahan yang kau pungut adalah inti jantungmu sendiri,

Yang baru pulang dari serangkaian peristiwa patah hati.

Kau terpukul, tidak ada kemarahan yang lebih baik selain kebencian yang tak berujung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × two =