New Normal Sebagai Awal atau Akhir

0
133

Penulis: M. Rafly Purnama | Kolase: Tori Andilo

Siapa yang tidak menyangka awal tahun yang penuh pengharapan untuk dicapai tandas di awal-awal. Segala urusan maupun pengembangan yang ingin dilakukan, diistirahatkan sejenak terlebih dahulu dikarenakan pandemi yang masih belum menemukan titik terang untuk berakhir. Segala upaya dilakukan untuk menekan penyebaran virus ini, ada yang berhasil menekan ada juga yang masih berkutat terhadap peningkatan yang sangat tajam. Itupun yang berhasil masih menyimpan rasa kewaspadaan tinggi terhadap gelombang yang akan menyusul dan yang masih dilanda dengan kasus yang terus menambah dibuat pusing setengah mati akan kebijakan yang pantas dan baik untuk dilakukan.

Keberhasilan menekan angka penyebaran bisa dikatakan mereka menang melawan pandemi ini, mugkin karena bidang kesehatan yang unggul untuk menanggulangi ataukah kesadaran setiap masyarakatnya untuk menjaga diri sekaligus saudaranya yang tetap menjaga jarak satu sama lain dan melakukan aktivitas di rumah saja. Tapi yang perlu diketahui yang menang bukan berarti dia yang terbebas seutuhnya terhadap pandemi, masih ada rasa kewaspadaan yang harus dimiliki setiap individunya.

Seperti memprediksi gelombang pandemi selanjutnya yang akan datang, maka daripada itu rasa kewaspadaan itu akan mempengaruhi pola hidup yang dijalankan berbeda daripada sebelumnya. Yang di mana ketika pandemi ini muncul masyarakat diwajibkan untuk menjaga jarak satu sama lain dan juga penghimbauan meningkatan proteksi diri ketika hendak berpergian seperti penggunaan masker dan handsanitizer

Penyesuaian kondisi hidup baru ini dinamakan new normal life. Namun penyesuaian hidup ini bersifat kontroversial di masyarakat apalagi khususnya di negara kita. Ambil contoh yang telah menerapkan new normal life ini adalah negara Vietnam yang berhasil menekan angka penyebaran selama sebulan lebih dengan nol kasus sama sekali.

Keberhasilan Vietnam lantas dijadikan percontohan setiap negara untuk diikuti. Dan itu terjadi di negara kita, penerapan new normal life dicanangkan untuk memperbaiki ekonomi negara yang ditakutkan apabila mengalami krisis. Matinya pergerakan dalam ekonomi bakal berimbas pada hancurnya ekonomi, begitu katanya. Para pelaku usaha pun bersenang hati karena apabila kebijakan pembatasan sosial sudah dilonggarkan maka usaha pun bisa dijalankan lagi.

Kalaupun pembatasan sosial tidak dilonggarkan maka akan banyak terjadi pemberhentian kerja, nah, itu akan berdampak pada kehidupan masyarakat untuk menyambung hidup. Mungkin inilah dilema terhadap kebijakan baru yaitu new normal life. Ketika pembatasan sosial diterapkan maka alasan untuk menyambung hidup digunakan untuk meminta perubahan terhadap kebijakan tersebut, namun ketika new normal life diterapkan maka kemaslahatan nyawa warga negara dipertanyakan.

Sebelum mempertanyakan dua hal yang membingungkan ini, mari kita melihat kebijakan pembatasan sosial yang telah diterapkan. Apakah kebijakan tersebut bersifat adil bagi semua masyarakat? Banyak yang dapat bekerja di rumah saja tapi banyak pula harus bekerja di lapangan.

Akibatnya pemberhentian kerja terjadi di mana-mana dan meminta untuk melonggarkan kebijakan ini agar bisa bekerja untuk menyambung nyawa baik buat diri sendiri maupun keluarga yang dihidupinya. Kalaupun pembatasan sosial ini mengundang pro dan kontra bagi masyarakat seharusnya negara memikirkan secara matang terhadap kebijakan yang akan diterapkannya.

Negara telah mendapatkan pembiayaan dengan cara meminjam atau berutang ke negara lain untuk penghidupan negara selama pandemi berlangsung. Dan anggaran tersebut digunakan di berbagai hal yang sudah kita ketahui tapi masih saja pembiayaan itu tidak merata dan tidak tepat sasaran. Lantas yang terjadi adalah beban utang negara bertambah dan dari pinjaman uang itu untuk masyarakat tidak bersifat efektif.

Banyak juga yang mengatakan kesadaran masyarakat untuk work from home tidak ada sama sekali sehingga pelanggaran terhadap kebijakan pembatasan sosial diacuhkan begitu saja. Kita kembali lagi terhadap pelanggaran yang dilakukan masyarakat terhadap pembatasan bukan lain dan tak bukan untuk alasan fundamental untuk menyambung nyawa dengan bekerja di lapangan. Itupun dilakukan karena merasa tidak adilnya bantuan yang didapatkan, yah karena tidak tepat sasaran mungkin. Itulah alasan yang digunakan untuk meminta pelonggaran terhadap kebijakan pembatasan.

Beralih untuk selanjutnya terhadap kebijakan baru untuk berdamai dengan penyebaran yaitu new normal life. Banyak mengundang responden tiap kalangan di masyarakat. Ada yang merasa senang karena dapatnya bekerja kembali seperti biasanya. Ada juga persepsi yang mengatakan kita saja belum berhasil menekan angka penyebaran bagaimana dengan diterapkannya kehidupan berdamai dengan penyebaran.

Dibalik itu semua, new normal life sudah dipikirkan sebelumnya dengan protokol yang sangat aman dengan menggunakan alat pelindung diri ketika melakukan aktivitas di luar dan juga alasan diberlakukannya new nomal adalah pergerakan ekonomi yang harus terus bergerak supaya tidak mengalami krisis. Tapi itu mengundang tujuan sebenarnya dari penerapan new normal ini. Apakah sudah tepat menyalamatkan ekonomi ketimbang manusianya terlebih dahulu ataukah penyelamatan terhadap ekonomi akan berimbas juga pada penghidupan masyarakat? Inilah awal kehidupan baru untuk melawan pandemi ataukah malah sebaliknya sebagai akhir dari penghidupan. Semua perspektif baik atau buruknya dikembalikan pada masyarakat yang melihat pandemi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here