Wednesday, August 5, 2020

Pasca-kebenaran menjadi tantangan tersendiri dalam dunia jurnalisme. Istilah Pasca-Kebenaran berasal dari kata Post-Truth yang dalam Kamus Oxford diartikan sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Kata ini menjadi “Word of the Year” pada 2016 dalam Kamus Oxford lantaran meningkatnya penggunaan istilah tersebut. Hal ini didukung oleh dua momen politik paling berpengaruh di Uni Eropa dan Amerika pada tahun itu.

McIntyre dalam bukunya yang berjudul Post-Truth menjelaskan kendati meluas dalam konteks konstestasi politik dan opini publik yang banyak berkembang dan dimediasi oleh teknologi informasi, istilah pasca-kebenaran sebenarnya sudah lama dikenal sejauh dimengerti sebagai kondisi di mana ‘fakta alternatif’ menggantikan ‘fakta aktual’. Dengan begitu, fenomena pasca kebenaran sebenarnya sudah menjadi fenomena yang jauh lebih lama dan mengalami perluasan hingga saat ini.

Pasca-kebenaran (post-truth) dapat pula didefinisikan sebagai kondisi manusia yang dalam tindakan dan pendapat didominasi dengan keyakinan dan perasaan secara subjektif. Meskipun perasaan dan emosi juga sebagai salah satu perangkat yang menjadi sumber pengetahuan dari manusia, namun dalam menanggapi fenomena yang timpang ini orang-orang yang terlena akhirnya akan mengaburkan subjektivitas dan objektivitas, fakta dan fiktif, kejujuran dan kecurangan. Batas-batas antara kebenaran dan kepalsuan, realitas dan rekaan semakin kabur dan sulit untuk dibedakan. Realitas yang ada adalah realitas semu atau diistilahkan oleh Jean Baudrilliad sebagai hiperrealitas. Ditambah dengan kemajuan teknologi informasi saat ini yang didukung kemampuan algoritma mesin pencari dapat membuat seseorang mengakses informasi yang begitu banyak di internet menggunakan preferensinya.

Menyikapi fenomena pasca-kebenaran, bagaimanakah seharusnya masyarakat memilih dan memilah informasi yang tersebar di media? Sudahkah kita menjadi lebih moderat? Di samping konsekuensi negatif yang timbul, segala kemajuan teknologi informasi tentu saja membawa kemudahan dalam berbagai lini kehidupan. Kita hanya perlu menjadi lebih bijak dalam menyikapi hal ini mengingat pasca-kebenaran memungkinkan batas antara antara fakta dan fiksi, jujur dan bohong, asli dan palsu menjadi kabur.

Dua Sisi Fitur Topik pada Twitter

Penulis: Zulfah Indah Hafsari | Ilustrasi: Ilvi Nurul Izzah Topik, fitur baru yang dirilis oleh Twitter pada 13 November 2019...

Menyelami Pemikiran Post-Modernisme Ekstrim dalam Logika Kapitalisme Global Melalui Sebuah Dunia yang Dilipat

Oleh: Ipa Khadijah | Sumber foto: gooodreads.com Penulis: Yasraf Amir Piliang Tahun Terbitan Pertama: 1998  Penerbit: Mizan ISBN: 9794331570 Pertama kali membaca buku...

Pasca Bencana, Kita Belajar Apa?

Penulis: Muhaimin Syadzali & Zhafirah Amalia | Kolase: Teguh Ardiansyah Sabir "Itu azab buat mereka,...

Nonton Konser atau Rekam Video?

Penulis: Kartika Nursyahbani & Shalfira Madani | Ilustrasi: Teguh Ardiansyah Sabir “Woy.. Hapenya di turunin woy!”

Berkenalan dengan Danau Matano, Danau Terdalam di Indonesia

Penulis: Remetha Ramadhanti & Salman Iskandar | Foto: Salman Iskandar Danau Matano yang berada di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, merupakan...

Lima Belas Nol Nol

Penulis: Vivi Asjuhamdayani | Ilustrasi: Ayu Andira Gadis berambut ukuran sebahu itu memasuki ruangan dan mendekati seseorang yang sedang duduk...

Tentang 1 April, Hari Kebudayaan Kota Makassar dan Harapan di Baliknya

Penulis: Fitrayani Arya & Diana Islamiati | Foto: Muh. Mughiits Mumtaz Kebudayaan sejatinya terlahir dari hasil penciptaan yang berdasar pada...

Pencarian

Penulis: Lisdayanti Kita adalah raga Terpisah dari jubah yang menancap

Jurnalis, Profesi dengan Tanggungjawab Moral dan Kemanusiaan

Penulis: Miftahul Jannah dan Nurul Izzah | Foto oleh: M. Alfayed Tidak pernah terbesit sedikitpun dibenaknya untuk...

Kaleidoskop