Feature

Ketika Hutan Kehilangan Napas Manusia Ikut Kehilangan Udara

Tulisan oleh: Ahmad bin Nasa

Di hadapan kobaran api yang kian mendekat, seorang bapak hanya bisa merekam keadaan di sekitarnya. Melalui sebuah video yang diunggah ke media sosial melalui akun instagram @nranisayani, ia memperlihatkan api yang mulai menjalar menuju rumahnya. Sementara itu, mobil pemadam kebakaran disebut tidak dapat menjangkau lokasi tersebut, dan kondisi air yang dipunyainya pun hanya sisa sedikit.

Tiga bulan lamanya sejak kobaran api perlahan-lahan mulai melahap seluruh hutan yang ada di Kalimantan. Fenomena ini dikenal dengan Karhutla atau kebakaran Hutan dan Lahan. Sebuah bencana ekologis yang dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem seperti El Niño, kerusakan bentang alam, serta aktivitas manusia.

Sejak agustus 2026 lalu, Karhutla di Kalimantan mulai merambat dari satu lahan hingga akhirnya berdampak ke ribuan hektare lahan di berbagai Kabupaten/Kota. Hingga kini, penangannya belum sepenuhnya pulih. Dari pagi hingga paginya lagi para petugas damkar terus berupaya memadamkan kobaran api yang terus menyala melahap segala yang dilewatinya, meninggalkan kepulan asap pekat yang mengubur keindahan nadi hijau Kalimantan.

Setiap harinya, para warga di sana, rasanya menghadapi neraka di depan matanya. Langit berwarna jingga, udara yang dulunya begitu segar, kini telah dipenuhi oleh racun asap karhutla. Para satwa-satwa kehilangan tempat tinggalnya, bahkan banyak endemik langka yang ikut termakan lautan api. Katanya, Kalimantan adalah paru-paru dunia, tapi kini tampaknya paru-paru dunia tersebut telah berganti menjadi hamparan debu kelabu, yang menyisakan sesak mendalam bagi bumi yang telah kehilangan napas hijaunya.

Rupanya, dampak itu tidak hanya dirasakan oleh warga disana. Kini, asap itu telah menjalar masuk ke wilayah kota Makassar. Langit ‘Kota Daeng’ yang biasanya cerah biru kini perlahan-lahan meredup kelabu, tertutup oleh selimut kabut putih kiriman yang membawa sesak dari seberang pulau.

Bencana lingkungan rupanya tak pernah mengenal batas administratif. Kepulan kelabu yang berarak dari seberang pulau seolah dikirim agar warga tetangga turut mengecap siksa yang sama, sebuah nestapa yang selama berhari-hari telah menjerat masyarakat di tanah Borneo. Kini, setiap embusan napas yang terasa berat di Makassar adalah gema dari jeritan yang sama, sebuah cara paling menyakitkan dari alam untuk mengingatkan bahwa kita semua menghirup napas dari langit yang satu.

Kini, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor : 100.3.4/13819/DINKES perihal peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi penularan influenza dan gangguan pernapasan. Langkah ini diambil karena adanya penurunan kualitas udara di wilayah Sulsel. Terlebih lagi, laporan BMKG Wilayah IV menyatakan bahwa udara Makassar dan sekitarnya telah masuk kedalam kategori “tidak sehat”.

Tak hanya itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar telah mengimbau para masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan tetap memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Hal ini disebabkan partikel halus yang berukuran sangat kecil dari asap yang hadir dapat terhirup masuk ke dalam paru-paru yang berpotensi memicu gangguan pernapasan atau ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Naasnya, dampak dari bencana ini justru paling nyata dirasakan oleh masyarakat yang harus bertahan di tengah kepungan asap dan ancaman kehilangan tempat tinggal. Berbulan-bulan berlalu, kebakaran yang terus meluas menyisakan pertanyaan tentang penyebab di baliknya. Kemarau mungkin memperburuk keadaan, tetapi faktor alam bukan satu-satunya hal yang perlu ditelusuri. Keterbukaan informasi mengenai lahan yang terbakar, termasuk data hak guna usaha (HGU), menjadi penting untuk mengungkap penyebab kebakaran dan memastikan pihak yang terbukti bertanggung jawab menjalankan kewajibannya. Sebab, kerusakan yang ditinggalkan bukan hanya tentang hutan yang hangus, tetapi juga kehidupan masyarakat yang harus menanggung akibatnya.

Pemulihan ekosistem gambut yang rusak dan perhatian terhadap masyarakat terdampak menjadi bagian penting dari upaya mengembalikan kehidupan yang hilang. Ketika, akhirnya kobaran api pun telah padam, bukan berarti seluruh persoalan turut berakhir. Kalimantan mungkin berada jauh dari tempat kita berpijak, tetapi asapnya mengingatkan bahwa kehidupan kita terhubung oleh udara yang sama. Kala hutan kehilangan kehijauannya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan alam, melainkan juga kehidupan manusia yang bergantung padanya.

Kosmik

Share
Published by
Kosmik

Recent Posts

CSC CORNER: Beyond Obscura, Memahami Lebih Dalam, Mengenal Lebih Dekat

Tulisan oleh: Tim CSC dan Baruga Materi tahap I Sosialisasi Almamater yang diselenggarakan oleh Kosmik…

1 week ago

Beyond Obscura, CSC Corner Dalami Makna Pergerakan Mahasiswa

Tulisan oleh: Andini Putri Nabila Communication Study Club (CSC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas…

1 week ago

Kosmik CUP 2026 Resmi Ditutup, Berikut Daftar Pemenangnya

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi menutup rangkaian…

2 weeks ago

Kosmik CUP 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Tiga Cabang Kompetisi bagi Mahasiswa FISIP

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Biro Communication, Sport, and Art (Comgastra) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik)…

2 weeks ago

RUMAH TUA TEPI HUTAN

Tulisan oleh: Abdul Hafid Zainal Bangunan tua itu sudah lama tidak digunakan. Letaknya tidak jauh…

3 weeks ago