Resensi Film

Monster 2023: Ketika Sudut Pandang Membuat Semua Terlihat Bersalah

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa

Judul Film : Monster
Tahun Rilis : 2023
Sutradara : Hirokazu Koreeda
Genre : Drama, Misteri, Thriller
Durasi : 126 Menit
Produser : Genki Kawamura, Kenji Yamada
Bahasa : Jepang

Ada kalanya sebuah film membuat kita merasa sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi, sampai cerita yang sama diperlihatkan dari sudut pandang berbeda. Tokoh yang awalnya kita curigai perlahan terlihat tidak sesederhana yang dibayangkan. Sebaliknya, orang yang kita percaya justru membuat kita mempertanyakan kembali penilaian sendiri. Hal seperti inilah yang ditawarkan oleh Monster (2023). Film ini yang bukan hanya mengajak penonton mencari tahu siapa yang bersalah, tetapi juga mempertanyakan betapa mudahnya menarik kesimpulan hanya dari apa yang terlihat.

Monster merupakan film garapan Hirokazu Koreeda yang pertama kali tayang di Festival Film Cannes ke-76 pada 17 Mei 2023, sebelum hadir di bioskop Indonesia pada Januari 2024. Salah satu hal yang membuat film ini menarik adalah cara ceritanya disusun. Penonton tidak langsung diberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebaliknya, peristiwa yang sama diperlihatkan dari sudut pandang berbeda, hingga perlahan muncul keraguan terhadap dugaan yang sebelumnya dianggap benar.

Setiap kali sudut pandangnya berganti, penilaian terhadap tokoh-tokoh dalam film ini ikut berubah. Tokoh yang awalnya dianggap bersalah mulai terlihat berbeda setelah informasi baru terungkap. Rasanya seperti terus berdebat dengan pikiran sendiri: siapa sebenarnya yang salah? Monster (2023) tidak sekadar menyembunyikan kebenaran seperti film misteri pada umumnya, tetapi memperlihatkan bagaimana prasangka terbentuk ketika kita hanya mengetahui sebagian cerita.

Cerita ini dibuka dari sudut pandang Saori Mugino, seorang ibu yang mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan putranya, Minato. Perubahan sikap Minato membuat Saori khawatir dan menduga bahwa sesuatu telah terjadi di sekolah. Kecurigaannya kemudian mengarah kepada Michitoshi Hori, guru Minato. Sebagai seorang ibu, Saori berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya. Sementara itu, penonton juga diajak mencurigai Hori. Dari informasi yang diberikan saat itu, rasanya wajar jika ia dianggap sebagai penyebab perubahan sikap Minato.

Namun, ketika cerita mulai berganti sudut pandang, dugaan tersebut perlahan berubah. Peristiwa yang awalnya terlihat sederhana ternyata tidak sesederhana itu. Tokoh yang semula tampak bersalah mulai memperlihatkan sisi berbeda setelah informasi yang sebelumnya tidak diketahui akhirnya terungkap. Dari situ, muncul pemahaman bahwa apa yang terlihat sejak awal belum tentu menggambarkan keseluruhan kejadian.

Bagian paling menarik bukan sekadar perubahan siapa yang terlihat bersalah, melainkan bagaimana satu peristiwa bisa dipahami secara berbeda oleh orang-orang yang mengalaminya. Hal yang sama dapat menghasilkan penilaian bertolak belakang, tergantung pada informasi yang dimiliki. Dalam kehidupan sehari-hari, hal serupa mungkin juga sering terjadi. Kita melihat seseorang melakukan sesuatu, lalu langsung menilai sikapnya tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dihadapi.

Di tengah semua dugaan yang berubah-ubah, cerita Minato dan Yori, teman sekelasnya, mulai memperlihatkan persoalan yang lebih dalam. Kehidupan mereka tidak sepenuhnya dipahami oleh orang dewasa di sekitarnya. Ketika orang dewasa sibuk mencari penjelasan dan menentukan siapa yang harus bertanggung jawab, perasaan anak-anak justru berisiko terabaikan. Mereka juga memiliki ketakutan, kebingungan, dan masalah sendiri, meskipun belum tentu tahu bagaimana cara menjelaskannya.

Film ini tidak hanya mengajak penonton menebak siapa yang bersalah, tetapi juga mempertanyakan cara orang dewasa memahami anak-anak. Niat untuk melindungi seseorang tidak selalu berarti kita sudah benar-benar memahami kebutuhannya. Terkadang, kesibukan membangun kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat justru membuat kita lupa memberi ruang kepada orang yang ingin dipahami.

Salah satu dialog yang paling membekas adalah ketika Minato berkata kepada Yori, “You were always normal.” Kalimat sederhana ini terasa berbeda setelah memahami hubungan mereka dan apa yang dialami. Bagiku, dialog tersebut berkaitan dengan penerimaan. Seseorang bisa merasa dirinya berbeda ketika terus-menerus diperlakukan seolah-olah ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Padahal, belum tentu dirinya yang perlu diubah. Bisa jadi, orang-orang di sekitarnya yang belum mampu menerima dirinya apa adanya.

Melalui hubungan Minato dan Yori, Monster memperlihatkan betapa mudahnya memberikan label kepada seseorang tanpa menyadari dampaknya. Hal-hal yang dianggap biasa oleh orang lain bisa membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. Terkadang, yang dibutuhkan bukan penilaian, melainkan ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus dianggap berbeda.

Dari segi penceritaan, Hirokazu Koreeda tidak terburu-buru menjelaskan semuanya. Informasi diberikan sedikit demi sedikit, sehingga penonton memiliki kesempatan untuk membentuk dugaan sendiri. Pilihan ini menarik karena setelah sepanjang film berusaha menentukan siapa yang salah, penonton justru diajak menerima bahwa tidak semua persoalan bisa dipahami dengan mencari satu jawaban saja.

Film ini mengingatkan kita bahwa apa yang tampak di permukaan belum tentu menceritakan semuanya. Memahami seseorang bukan berarti harus membenarkan semua tindakannya. Namun, kita bisa memberi diri sendiri waktu untuk melihat persoalan dengan lebih utuh sebelum memutuskan siapa yang salah.

Barangkali itulah yang membuat judul Monster terasa menarik. Sepanjang film, penonton sibuk mencari siapa yang pantas disebut monster. Namun, bagaimana jika masalahnya bukan sesederhana menemukan satu orang yang bersalah? Bagaimana jika prasangka kita sendiri ikut membuat seseorang terlihat seperti monster?

Sebelum sibuk menunjuk siapa monster dalam cerita seseorang, ada baiknya bertanya, “Apa kita benar-benar sudah mengetahui keseluruhan ceritanya?”

Kosmik

Recent Posts

Dua Tahun Berkuasa, Segudang Tuntutan Menyala

Tulisan Oleh: Nadin Arsetya Prabowo “Hidup rakyat Indonesia! Hidup Mahasiswa!" Suara lantang dari TOA itu…

6 days ago

Pra-FIGUR 2026, Bekali Mahasiswa Baru dengan Materi dan Kekaryaan Komunikasi

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan Pra-FIGUR (Forum…

1 week ago

Ketika Hutan Kehilangan Napas Manusia Ikut Kehilangan Udara

Tulisan oleh: Ahmad bin Nasa Di hadapan kobaran api yang kian mendekat, seorang bapak hanya…

2 weeks ago

CSC CORNER: Beyond Obscura, Memahami Lebih Dalam, Mengenal Lebih Dekat

Tulisan oleh: Tim CSC dan Baruga Materi tahap I Sosialisasi Almamater yang diselenggarakan oleh Kosmik…

3 weeks ago

Beyond Obscura, CSC Corner Dalami Makna Pergerakan Mahasiswa

Tulisan oleh: Andini Putri Nabila Communication Study Club (CSC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas…

3 weeks ago