Oleh : Gilang Virgiawan
Foto Oleh : Gilang Virgiawan
Kala itu, ombak berderu perlahan memecah keheningan yang hanya sepersekian. iya, keheningan itu terlintas di benak.
Kembali mempertanyakan kehidupan, mungkin sudah saatnya tuk perubahan.
Menginginkan presensi dirinya terdengar halu, walau bisa dipandang secara semu. Sejak saat itu, dunia perlahan berubah dan berwarna. Namun bukannya bertahan lama, itu jadi sekedar rasa sementara. Kembali sadar bahwa hidup ini memang terasa hambar.
Ketika senja datang, ku merasa setengah diriku menghilang. Bagaikan tak berdosa, kau hancurkan rasa yang selama ini ku tanam. saat semuanya telah pergi, bayangmu kembali mengisi.
Entah mengapa orangenya langit dikala surya pamit ini memiliki kesan tersendiri. Disusul dengan hadir nya bulan nantinya dan gemuruh angin pantai yang menepis tipis di bagian bawah pelipis. Laut dan langit selalu jadi pelarian, pembawaannya yang tenang serta cahaya matahari yang remang. Sungguh perpaduan yang sempurna.
Banyak hal yang ingin disampaikan belum sempat tersampaikan sudah tercampakkan. Namanya hidup, adakalanya untuk redup.
“Menghapus tinta yang pernah kau lukis di kanvas hatiku.”
“Merobek semua bayangan yang tampak direlung sukmaku.”
Namun sayangnya aku tak sekuat itu, masih mencari kasih yang belum terealisasi.
Proses.
Tulisan Oleh: Muhammad Hisyam Zuhair Spanyol menutup Piala Dunia 2026 sebagai juara, dan mereka pantas…
Tulisan Oleh: Putri Khairunnisa Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar peringatan Hari…
Tulisan Oleh: Putri Khairunnisa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sekaligus alumni Korps Mahasiswa Ilmu…
Tulisan Oleh: Amira Yaumil Azmi kk Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi Desa Gelombang…
Tulisan Oleh: Andi Nurul Magfirah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Usaha Mikro, Kecil, dan…
Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Judul Film: Mumu (不说话的爱 / Bu Shuo Hua De Ai…