Cerpen

Berharap Esok Lebih Baik

Tulisan Oleh : Muhammad Alfaridzi

Ilustrasi Oleh : Pinterest

Di usia baru menginjak dua belas tahun, aku tahu tak banyak yang bisa kulakukan. Ayah sudah lama tiada, dan kini, ibu yang selama ini menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, terpaksa mendekam di balik jeruji karena tindakan pendisiplinannya di sekolah, justru menjeratnya dalam kasus hukum.

Dengan ibu tak lagi ada di sisi, hidupku dan adikku yang masih berusia tujuh tahun menjadi terkatung-katung. Kami sempat tinggal bersama salah seorang saudara dari ibu, namun kehangatan sama sekali tak ada. Mereka mengurus kami dengan penuh perhitungan, seolah kehadiran kami tidak sepenuhnya diterima dengan ikhlas.

Suatu pagi, saat mereka pergi berbelanja, aku bersimpuh menggenggam tangan mungil adikku. “Dek, kita pergi ya. Kakak yakin, kita bisa cari tempat yang lebih baik,” bisikku padanya dengan berhadapan muka. Dia menatapku sejenak, mungkin bingung, tapi kemudian ia mengangguk pelan.

Langkah kaki kami menjauh dari rumah itu, tanpa memegang uang sepeser pun. Perutku yang belum terisi, mulai melilit lapar. Dan aku tahu, adikku pasti merasakan hal yang sama. “Dek, ikut kakak cari botol atau gelas plastik ya, biar kita bisa jual buat beli sarapan,” ajakku.

Hasil dari jerih payah kami pagi itu hanya cukup untuk membeli dua potong roti. Memang sedikit, tapi setidaknya bisa mengganjal perut. Selama setengah hari, kami berkelana tanpa arah, mencari sudut teduh yang sesuai untuk bernaung.

Malam pun datang, disertai hujan yang mengguyur dengan derasnya. Pakaian basah kuyup, tubuh kami mulai menggigil, dan rasa lapar mendera kembali. Adikku, yang sejak tadi berusaha kuat, akhirnya tak kuasa lagi menahan diri. “Kak, adek lapar. Adek udah gak tahan lagi, perut adek sakit” gumamnya pelan, bibirnya bergetar. Kata-katanya tersebut menggugah rasa sesak di dadaku.

Aku memeluknya, mengusap lembut kepalanya. Air mataku mengalir membaur dengan butiran hujan. “Yaudah, dek. Kita coba cari warung makan ya. Siapa tahu ada yang mau kasih kita makan” hanya itu yang bisa kukatakan. Dengan langkah gontai, aku menggendongnya mencari warung makan terdekat.

Kami kemudian menemukan sebuah warung makan. Aku pun memberanikan diri untuk mendekati pemiliknya, “Pak, bolehkah kami minta makan sedikit saja? Adik saya belum makan nasi dari pagi, cukup untuk adik saya saja juga gak apa Pak” pintaku dengan memelas. Alih-alih merespons dengan baik, bapak itu justru membentak. “Tidak ada makanan untuk kalian. Basah-basahan begini, ganggu saja orang yang lagi makan. Pergi sana!”

Aku lantas beranjak pergi. “Maaf ya dek, Kakak belum bisa kasih makan. Jangan marah sama bapak yang tadi ya, itu haknya beliau kok. Kita coba cari tempat lain lagi, ya” ucapku dengan suara lirih sambil memaksakan senyuman.

Hujan yang belum kunjung reda, alunan bunyinya mengiringi gemuruh perut yang keroncongan. Dengan penuh harap, kami memanjatkan doa kepada Sang Razzaq. Memohon semoga ada hal-hal baik yang datangnya belakangan.

Kosmik

Share
Published by
Kosmik

Recent Posts

Messi dan Ronaldo Pergi, Sepak Bola Kehilangan Rivalitas Terbesarnya

Tulisan Oleh: Muhammad Hisyam Zuhair Spanyol menutup Piala Dunia 2026 sebagai juara, dan mereka pantas…

5 days ago

HUT Ke-37 Kosmik Pererat Silaturahmi Lintas Generasi

Tulisan Oleh: Putri Khairunnisa Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar peringatan Hari…

7 days ago

Alumni Kosmik Bagikan Pengalaman Berorganisasi pada HUT Ke-37

Tulisan Oleh: Putri Khairunnisa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sekaligus alumni Korps Mahasiswa Ilmu…

7 days ago

Mahasiswa KKN-T Inovasi Desa Unhas Gelar Seminar Program Kerja di Kelurahan Massepe

Tulisan Oleh: Amira Yaumil Azmi kk Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi Desa Gelombang…

1 week ago

KKN-T UMKM Unhas Paparkan Program Kerja untuk Pengembangan UMKM Desa Talawe

Tulisan Oleh: Andi Nurul Magfirah Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Usaha Mikro, Kecil, dan…

1 week ago

Mumu: Ketika Keheningan Menjadi Bahasa Cinta

Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Judul Film: Mumu (不说话的爱 / Bu Shuo Hua De Ai…

1 week ago