Foto: Fanny Schertzer/Wikimedia Commons, CC BY 3.0.
Tulisan Oleh: Muhammad Hisyam Zuhair
Spanyol menutup Piala Dunia 2026 sebagai juara, dan mereka pantas mendapatkannya. La Roja mengalahkan Argentina 1-0 lewat perpanjangan waktu dengan permainan yang lebih berani, rapi, dan konsisten. Namun, ketika pesta mulai reda, turnamen ini meninggalkan satu hal lain: kita mungkin baru saja menyaksikan bab terakhir dari rivalitas individual terbesar dalam sejarah sepak bola.
Cristiano Ronaldo sudah memastikan bahwa ini adalah Piala Dunia terakhirnya. Perjalanannya berakhir di babak 16 besar, juga di tangan Spanyol. Lionel Messi bertahan hingga final, tetapi gagal menambah gelar dunia keduanya. Ronaldo kini berusia 41 tahun, Messi 39. Mereka mungkin belum langsung berhenti bermain, tetapi panggung terbesar yang selama ini ikut menghidupkan perdebatan mereka tampaknya telah selesai.
Pada Piala Dunia 2006, keduanya bahkan belum datang sebagai rival. Ronaldo baru berusia 21 tahun, sementara Messi masih 18 tahun. Belum ada Pessi, Penaldo, tap-in merchant system player, atau akun anonim yang begadang demi membuktikan idolanya lebih hebat. Jerman 2006 bukan awal rivalitas mereka. Itu baru prolog.
Rivalitas itu benar-benar lahir pada 2008 dan 2009. Ronaldo meraih Ballon d’Or, lalu Messi mengambilnya setahun kemudian. Saat Ronaldo pindah ke Real Madrid, persaingan itu menemukan panggung yang nyaris sempurna: El Clasico. Barcelona melawan Madrid, nomor 10 melawan nomor 7, dua klub terbesar dengan dua pemain terbaik di dunia. Setiap akhir pekan seperti pemungutan suara baru untuk menentukan siapa GOAT sebenarnya.
Ronaldo mencetak hat-trick, fans Messi menghitung penalti. Messi melewati empat pemain, fans Ronaldo bertanya apakah ia mampu melakukannya di liga lain. Ketika argumen sepak bola mulai habis, internet menciptakan kamus penghinaannya sendiri: Eibarman, Penaldo, UCL merchant, Camel League, Burger League, dan entah apa lagi. Kadang memang lucu, tetapi lebih sering melelahkan. Sepak bola sebelas lawan sebelas berubah menjadi ruang sidang dengan hanya dua terdakwa.
Namun, justru kegilaan itu menunjukkan betapa besarnya rivalitas mereka. Messi dan Ronaldo bukan rival terbesar karena paling sering berhadapan atau saling membenci. Mereka bahkan tidak pernah bertemu di Piala Dunia. Mereka menjadi rival terbesar karena setiap pencapaian salah satunya membuat pencapaian yang lain terasa belum selesai. Satu orang menaikkan standar, yang lain datang dan memaksanya naik lagi.
Keduanya menawarkan gambaran kehebatan yang hampir bertolak belakang. Ronaldo adalah hasil dari ambisi tanpa tombol mati: tubuh yang dibentuk, lompatan yang dilatih, gol yang terus diburu, serta keyakinan bahwa ia harus menjadi pusat pertandingan. Messi justru seperti sepak bola yang bergerak alami: sentuhan kecil, perubahan arah, umpan yang baru terlihat setelah bola sampai, dan momen ketika empat pemain lawan mendadak tampak salah memilih profesi.
Perbedaan itu membuat banyak orang merasa harus memilih. Padahal, selama satu dekade, keduanya saling membesarkan. Dari 2008 hingga 2017, Ballon d’Or hanya berpindah di antara mereka. Sulit membayangkan dominasi selama itu tanpa kehadiran rival yang terus muncul di papan skor, podium, dan halaman depan. Mereka sudah luar biasa sejak awal, tetapi persaingan itu membuat berhenti berkembang terasa mustahil.
Piala Dunia 2026 memberi penutup yang tidak sempurna. Ronaldo pulang tanpa trofi yang selalu hilang dari koleksinya. Messi gagal mengangkat piala pada laga terakhirnya. Tidak ada final Portugal melawan Argentina, tidak ada duel pamungkas yang mengakhiri perdebatan. Mungkin memang tidak pernah ada jawaban yang akan diterima semua orang. Bagi banyak penggemar, memilih Messi atau Ronaldo telah menjadi bagian dari identitas.
Kini obor berpindah kepada generasi berikutnya. Lamine Yamal, Kylian Mbappe, Erling Haaland, Jude Bellingham, dan pemain muda lain akan membangun zaman mereka sendiri. Kesalahan kita adalah buru-buru mencari “Messi baru” atau “Ronaldo baru”, seolah pemain hebat hanya sah ketika menyerupai masa lalu. Biarkan mereka menjadi nama pertama mereka sendiri.
Messi dan Ronaldo membuat hal luar biasa terlihat biasa hingga kita lupa bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya tidak normal. Mungkin suatu hari akan muncul pemain dengan lebih banyak gol atau trofi. Namun, menghadirkan dua pemain sebesar ini pada waktu yang sama, saling mengejar selama hampir dua dekade, lalu membelah satu generasi menjadi dua kubu, adalah sesuatu yang mungkin tak akan mudah terulang.
The torch now passes to the next generation. Football may never see a rivalry quite like this again.
Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Menyambut 172 mahasiswa baru…
Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Dua alumni dan Mahasiswa Berprestasi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) membagikan…
Tulisan oleh: Faizah Nur Aisya Syamsuar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin…
Tulisan oleh: Joshua Dionichi Chandra Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 melaksanakan pelatihan…
Tulisan oleh: Joshua Dionichi Chandra Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 melaksanakan program…
Tulisan oleh: Siti Zaenab Al Fitriyah Universitas Hasanuddin (Unhas) menyambut 10.401 mahasiswa baru melalui Pengenalan…