Categories: Resensi Buku

Six of Crows: Aksi Si Tangan Kotor dan Bandit-banditnya

Teks oleh Salsabila Qurrata A’yun

Foto: leighbardugo.com

Judul: Six of Crows

Penulis: Leigh Bardugo

Penerjemah: Reni Indardini

Tahun Terbit Terjemahan: 2018

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

ISBN: 978-602-481-065-8

Mengangkat ide cerita yang berisi petualangan memang selalu berhasil menyedot pembaca untuk terjun ke dalamnya. Untuk Novel Six of Crows, penulis tidak tanggung-tanggung membuat pembaca melakukan hal tersebut. Sekali masuk dalamnya, theres’s no turning back.

Cerita ini menggambarkan Kaz Brekker, seorang bajingan ulung yang memiliki julukan Tangan Kotor. Ia berani melakukan apa saja yang penting sesuai dengan harga. Begitulah setidaknya siklus yang berlaku di Ketterdam, latar tempat untuk cerita ini. Katterdam adalah kota pelabuhan sekaligus pusat perdagangan antarnegara yang riuh.

Kaz yang dijuluki Tangan Kotor ini pada suatu hari mendapatkan tawaran pekerjaan gelap yang bisa saja berujung maut. Namun upah selangit berhasil membuat Kaz mempertaruhkan segalanya. Sebelum mengemban misi tersebut, Kaz merekrut kru yang kemudian menjadi bandit-banditnya. Bandit-bandit tersebut di antaranya adalah Inej, siluman yang lihai mengendap-endap. Matthias, tawanan yang haus akan pembalasan dendam. Jesper, penembak jitu yang kecanduan berjudi. Wylan, juragan kecil yang kabur dari rumah. Serta Nina, penyihir yang bisa mengoyak jantung.

Penokohan yang terdapat dalam buku ini sangatlah kuat. Bukan hanya si tokoh utama Kaz Brekker saja, melainkan seimbang dengan tokoh-tokoh lainnya. Pengaturan sifat-sifat yang dimiliki para tokoh sangat inovatif dan kreatif. Tokoh yang menjadi kesukaan saya dalam buku ini adalah Nina Zenik, si penyihir yang memiliki kemampuan luar biasa.

Pembaca juga disuguhkan dengan dua peta dalam cerita. Ilustrasi petanya pun terlihat begitu detail. Peta yang pertama menggambarkan Ketterdam dan wilayah di sekitarnya. Peta kedua menggambarkan Majelis Es, tempat Kaz dan bandit-banditnya akan melaksanakan mission impossible. Dengan adanya kedua peta tersebut, pembaca dapat lebih memahami dunia cerita yang terbentuk dalam buku ini.

Cerita ini juga diwarnai dengan alur maju mundur. Meskipun begitu, pembaca tidak akan dibuat kebingungan. Malahan dengan alur maju mundur tersebut ceritanya berhasil berjalan dengan penuh intrik. Pada setiap bagian cerita, penulis menggunakan sudut pandang yang berbeda-beda dari setiap tokoh. Hal tersebutlah yang membuat ceritanya makin menarik untuk diikuti.

Adapun ide ceritanya menurut saya sangat menarik. Berbeda dari novel fantasi lainnya, Six of Crows berhasil memadukan aksi, cinta, keluarga, petualangan, dan strategi dalam satu kisah yang apik.

Selain beberapa hal diatas, adegan aksi dalam buku ini pun patut disorot. Aksi demi aksi berhasil tergambarkan dengan sangat apik, sehingga theater of mind pembaca dapat terbentuk dengan baik.

Baruga Kosmik

Recent Posts

Kosmik CUP 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Tiga Cabang Kompetisi bagi Mahasiswa FISIP

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Biro Communication, Sport, and Art (Comgastra) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik)…

9 hours ago

RUMAH TUA TEPI HUTAN

Tulisan oleh: Abdul Hafid Zainal Bangunan tua itu sudah lama tidak digunakan. Letaknya tidak jauh…

4 days ago

Sejauh Ini

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Peralihan menuju dunia dewasa bukanlah hal yang menyenangkan, atau mungkin, hal…

4 days ago

Platina Data: Ketika Data Tak Lagi Netral

Tulisan oleh: Asmaul Husna Judul Asli: Purachina Dēta (プラチナデータ)Judul Terjemahan: Platina DataPenulis: Keigo HigashinoPenerbit: Gramedia…

6 days ago

Suara dari yang Tak Bersuara

Tulisan oleh: Faiz Athaillah Pada suatu hari yang cerah "Cerah terus ceritanya, Pa," celetuk seorang…

6 days ago

Pendiri Kakufood Paparkan Strategi Pemasaran Digital pada Creative Ads Class 2026

Tulisan oleh: Faizah Nur Aisyah Syamsuar Pendiri Kakufood, Fadil Ihsan, hadir sebagai pembicara dalam sesi…

2 weeks ago