Uncategorized

Funiculi Funicula 2: Jika Kenyataan Tak Bisa Berubah, Lalu Apa yang Sebenarnya Mereka Cari?

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa

Judul Asli: コーヒーが冷めないうちに #2
Judul Terjemahan: Funiculi Funicula 2: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap
Penulis: Toshikazu Kawaguchi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ahli Bahasa: Asri Pratiwi Wulandari
Tahun Terbit: 2022
Tebal: 200 halaman

Jika tahu kenyataan tidak akan berubah, apakah kita masih ingin kembali ke masa lalu?

Pertanyaan itulah yang terus terlintas saat membaca Funiculi Funicula 2: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap karya Toshikazu Kawaguchi. Buku ini melanjutkan kisah sebuah kafe tua yang berada di sebuah gang kecil di Tokyo dan dipercaya mampu membawa pengunjungnya menjelajahi waktu.

Peraturan yang berlaku masih sama. Pengunjung hanya bisa menemui seseorang yang sudah pernah datang ke kafe tersebut, hanya bisa duduk di kursi tertentu, dan yang terpenting, harus menyelesaikan semuanya sebelum kopi itu dingin. Namun, ada satu aturan yang terus membuat penasaran: sekeras apa pun seseorang berusaha mengubah sesuatu, kenyataan yang ada saat ini tidak akan berubah.

Lantas, untuk apa orang-orang bersikeras menjelajahi waktu jika tidak bisa mengubah kenyataan?

Seri kedua ini menceritakan empat kisah yang berbeda dengan penyesalannya masing-masing. Ada yang ingin menemui sahabatnya, meminta maaf kepada ibunya, memastikan orang yang dicintainya baik-baik saja, hingga memberikan hadiah kepada istrinya. Meski memiliki alasan yang berbeda, tujuan mereka sama, yaitu kembali ke masa ketika masih ada sesuatu yang ingin diselesaikan.

Awalnya, aku mengira menjelajahi waktu adalah cara untuk mengubah takdir. Namun, setelah membaca buku ini hingga akhir, aku sadar bahwa takdir boleh tetap sama. Pada akhirnya, dunia memang tidak berubah, tetapi diri mereka setelah kembali dari sana yang berubah. Mereka rela mengikuti berbagai peraturan yang rumit meski tahu hal tersebut tidak akan mampu mengubah apa pun yang telah terjadi. Sebab, yang berubah bukanlah kenyataan, melainkan cara mereka menerima kenyataan tersebut.

Mungkin pada akhirnya kita memang tidak membutuhkan kesempatan untuk mengubah masa lalu. Yang kita butuhkan hanyalah kesempatan untuk mengucapkan kata yang tidak sempat terucap, memberikan sesuatu yang belum sempat kita berikan, atau berpamitan dengan cara yang selama ini kita butuhkan.

Funiculi Funicula 2 menunjukkan bahwa perjalanan kembali ke masa lalu tidak selalu bertujuan untuk memperbaiki sesuatu. Terkadang, kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berdamai dengan apa yang telah terjadi. Karena pada akhirnya, yang berubah bukanlah dunia, melainkan diri kita sendiri.

Kosmik

Recent Posts

Kosmik Gelar Advance Class of Broadcasting, Bekali Peserta Keterampilan Produksi Siaran

Tulisan oleh: Abdul Hafid Zainal Biro Broadcasting Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin (Unhas)…

4 days ago

Indonesia Baik-Baik Saja, atau Kita Sudah Terlalu Terbiasa dengan Masalah?

Tulisan oleh: Puji Lestari W Katanya, Indonesia baik-baik saja.Bendera masih berkibar.Pagi masih menyapa.Anak-anak masih membawa…

5 days ago

Cinta Pertama yang Kandas

Tulisan oleh: Faizah Nur Aisyah Syamsuar Kita semua tahu cinta pertama ada untuk selamanya, namun…

5 days ago

Buka Unhas Day 2026, Rektor Wajibkan Maba Angkatan 2026 Punya Skor IELTS

Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan ajang penyambutan dan pengenalan unit kegiatan…

6 days ago

Departemen Ilmu Komunikasi Unhas Sambut Resmi 172 Mahasiswa Baru

Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Menyambut 172 mahasiswa baru…

1 week ago

Dari Organisasi hingga Dunia Kerja, Alumni dan Mahasiswa Berprestasi Komunikasi Bagikan Pengalamannya pada PKKMB Departemen Ilmu Komunikasi

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Dua alumni dan Mahasiswa Berprestasi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) membagikan…

1 week ago