Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono
Tulisan oleh: Faizah Nur Aisyah Syamsuar
Kita semua tahu cinta pertama ada untuk selamanya, namun sering kali bukan untuk terus bersama.
Selain akal, kita menjadi makhluk paling sempurna dengan hadirnya gairah yang mewarnai segala akar kehidupan. Selain akta lahir, kita mungkin menjadi manusia paling beruntung di dunia dengan status Warga Negara Indonesia, dibaca: berlaku seumur hidup.
Sedari bubuhan ibunda hingga akil balig secukup sekarang, tak habis-habis corak ragam emosi yang terus menyapa pada tiap denyut kesibukan. Kapan pun, di mana pun, apa pun. Terkadang ia berbentuk tawa bahagia saat pertama menerima hadiah ulang tahun, terkadang berwujud isak sedih ketika harus berpisah dengan kawan bermain, atau sipu malu kala tak mampu menjawab pertanyaan dari ibu guru di hadapan seluruh kelas.
Tetapi lebih dari apa pun, tentu nihil yang mampu menyamai buncahan hati oleh gelora cinta saat pertama mengetuk jiwa.
Walau terasa demikian, ia mungkin tak selalu sempurna, sebagaimana Tanah Air. Tanah yang berdarah-darah oleh kemelut perjuangan buruh tani, air yang keruh bercemarkan limbah hilirisasi nikel.
Untuk mengawali, bahkan sulit untuk memulai dari mana. Dana pendidikan yang berada pada prioritas kesepuluh dari sepuluh instansi negara, 19 juta lapangan kerja tak kunjung nyata, harga bahan pangan dan papan yang naik setiap harinya, ruang aman kaum marginal yang terus sirna, penyepelean hak asasi manusia, 1 USD sebanyak 18 ribu rupiah, VISA paspor lemah, pelik perkara pemilahan sampah, dan seolah itu semua belum seberapa, kini rakyat pun ikut diusir oleh kepala negara.
Mengatakan kita semua kecewa adalah sebuah pemakluman kolektif. Sebab lebih dari Dia yang indah bagaikan permata untuk disemarakkan hadirnya, kita lebih dahulu mengenal Ibu Pertiwi dengan lautan biru yang menghampar, hutan hijau yang membentang, bumi permai sejauh mata memandang pada negeri surgawi bergelarkan zamrud khatulistiwa.
Semasa kanak-kanak, entah mana yang lebih dekat di pendengaran, “I love you” atau “I love Indonesia.” Yang mana pun, keduanya sama-sama kalimat pernyataan dengan makna afeksi yang sungguh.
Sebegitu takzim pendahulu negeri sehingga merancang mata pelajaran mencinta khusus bernama Pendidikan Kewarganegaraan, diajarkan sepanjang sekolah formal hingga bangku kuliah. Belasan hingga puluhan tahun kita diajak memuja Tanah Air sedari teori sampai ke praktiknya agar tak salah dalam perlakuan. Sepenting itu, seurgen itu.
Betapa syahdu bentuk-bentuk penyembahan bakti seluruh manusia Sabang hingga Merauke yang berbeda-beda asal, namun selalu tahu setidaknya sedikit dari bahasa Indonesia. Betapa istimewa elok pantai dan gunungnya yang sehari-hari dipuja puji dalam kidung juga senandung. Betapa permai seluruh sesuatu di dalamnya sampai segala hal menjadi tentangnya, bagi jutaan hati yang pernah disapanya sejak pertama menyapa.
Ratusan juta hati pernah ia ketuk, ratusan juta mata pernah ia manjakan, ratusan juta wajah selalu ia senyumkan, hingga kini ratusan juta terasa hampa tatkala ia berada di ujung nestapa.
Seketika, kita mampus termakan linglung segera sehabis merasakan harap yang pupus.Sabangnya dibumi hanguskan, Meraukenya diluluh lantakkan, bahasanya diperkosa dari jati sesungguhnya, pantainya dikeruk, gunungnya digundul, bahkan kisahnya pun hendak didikte tangan-tangan nista bergelimangkan cela.
Pencinta-pencintanya mengunjuk rasa, kekasih-kekasihnya menuntut perbaikan total, sementara anak-anaknya meregang raga dan nyawa di antara pelukan Pertiwi.
Ketika lautannya tak lagi biru, kini berhiaskan tumpukan sampah; ketika hutannya bukan hijau, namun tandus kehilangan pohon, satwa, dan floranya; juga ketika negerinya tiada terasa sepermai surga oleh kobaran neraka berjelmakan pajak, represi, tirani, korupsi, kolusi, dan nepotisme, lantas ke mana perginya negara yang kita cinta itu?
Apakah cinta ini belum cukup? Apakah terlalu banyak harap? Apakah diri ini belum selayak itu untuk dianggap? Atau, apakah selayak cinta pertama, habis manis sepah dibuang, habis jaya kandas dilupa?
Maka kandaslah yang terjadi.
Hari raya kedelapan puluh satu kini mampir kembali, tetapi nyaris nihil yang peduli. Sebabnya terletak sejak penguasanya memeluk mesra oligarki, rasuahnya lestari, pendidikannya diserongi makanan bergizi, hutannya digergaji tak kenal reboisasi, lautnya direklamasi, rakyatnya dikhianati betinggi-petinggi, hingga hendak berwisata ke luar negeri pun tertahan cukai. Paspornya ringkih, tak sanggup gerbang akses bandara internasional dilewati.
Sepertinya kita hanya kurang dekat dengan Tuhan. Bagaimana dengan menemui saat ibadah di rumah-Nya? Sayang sekali, haji juga dikorupsi. Kalau begitu yang murah saja, membaca sudah lebih dari cukup. Itu juga sayang, pajak kertasnya melambung tinggi. Genre-genre kiri pun habis dibakar api.Sayang, padahal dahulu Ia seindah itu, semenawan itu, semenyenangkan itu. Tetapi mungkin karena waktu, mungkin juga sebab pemilu, cinta ini tumpas bahkan sebelum seiras. Seumpama cinta pertama, Indonesia melanglang buana entah ke mana, ke bagian dunia yang apa, dibawa lari siapa. Sementara kita? Kita lunglai seperti pasrah saja.
Mungkin akan ada cara, mungkin juga tiada. Toh, cinta pertama pasti sirna, takkan pernah bersama.
Tulisan oleh: Abdul Hafid Zainal Biro Broadcasting Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin (Unhas)…
Tulisan oleh: Puji Lestari W Katanya, Indonesia baik-baik saja.Bendera masih berkibar.Pagi masih menyapa.Anak-anak masih membawa…
Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan ajang penyambutan dan pengenalan unit kegiatan…
Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) Menyambut 172 mahasiswa baru…
Tulisan oleh: Putri Khairunnisa Dua alumni dan Mahasiswa Berprestasi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (Unhas) membagikan…
Tulisan oleh: Faizah Nur Aisya Syamsuar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin…