Oleh: Communication Study Club
Communication Study Club (CSC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin kembali menghadirkan ruang dialog kritis lewat diskusi yang mengangkat tema “Menghapus Stigma Difabel dalam Mewujudkan Kesetaraan Hak.” Diskusi ini menyoroti bahwa persoalan disabilitas tidak bisa lagi dipahami semata-mata sebagai keterbatasan fisik individu, melainkan sebagai masalah sosial yang berkaitan erat dengan cara masyarakat membangun persepsi, Jumat (22/08).
Sejak awal, forum ini menegaskan bahwa stigma terhadap penyandang disabilitas lebih berakar pada konstruksi sosial dibandingkan dengan kondisi fisik itu sendiri. Labelisasi, stereotipe, dan pandangan sempit tentang “normal” sering kali menutup ruang partisipasi difabel di berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga akses terhadap layanan publik. Alih-alih menjadi inklusif, lingkungan sosial justru kerap melanggengkan diskriminasi yang membatasi kesempatan mereka.
Salah satu sorotan penting dalam diskusi adalah bagaimana bahasa dan istilah yang digunakan masyarakat turut menciptakan stigma. Sebutan seperti “cacat” tidak hanya mengandung konotasi negatif, tetapi juga memperkuat citra bahwa penyandang disabilitas adalah kelompok yang berbeda dan terpisah. Padahal, perbedaan seharusnya dipandang sebagai keberagaman, bukan kekurangan. Cara pandang ini penting diubah agar keberadaan difabel diakui sebagai bagian utuh dari masyarakat, dengan hak yang sama untuk berpartisipasi.
Lebih jauh, forum ini menggarisbawahi bahwa menghapus stigma bukanlah pekerjaan sederhana. Pergeseran bahasa memang penting, tetapi yang lebih mendasar adalah membongkar pola pikir diskriminatif yang sudah lama mengakar. Perubahan itu membutuhkan strategi nyata dan berkelanjutan, mulai dari penyusunan kebijakan yang inklusif, pembangunan infrastruktur yang ramah disabilitas, hingga penyediaan layanan pendukung seperti terapi okupasi dan terapi wicara. Semua langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup serta mendorong kemandirian penyandang disabilitas.
Selain itu, dibutuhkan pula peran aktif masyarakat dalam mengubah perspektif. Menurut pembahasan yang mengemuka, keberanian untuk berhenti melihat disabilitas sebagai kekurangan adalah fondasi utama untuk membangun tatanan sosial yang setara. Dengan mengakui bahwa keberagaman merupakan bagian dari kekuatan bersama, masyarakat akan lebih mudah menumbuhkan empati dan solidaritas.
Diskusi ini juga membuka kesadaran baru tentang bagaimana komunikasi dapat membentuk cara pandang masyarakat. Perspektif kritis terhadap bahasa, media, dan interaksi sosial menjadi bekal penting dalam mendorong terciptanya ruang publik yang lebih inklusif.
Lewat forum ini, CSC Kosmik Unhas menegaskan komitmennya untuk menjadikan kampus sebagai ruang yang terbuka bagi diskusi-diskusi kritis mengenai isu sosial. Dengan menghadirkan topik tentang stigma difabel, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan dan memperkuat peran kolektif dalam memperjuangkan kesetaraan hak di tengah masyarakat.
Communication Study Club




