Ilustrasi dari: @/mazeyellows (X)
Tulisan Oleh: Radian Dwi Imam Ar’rafi
Belakangan, linimasa media sosial dipenuhi oleh simbol tiga warna perlawanan: Resistance Blue, Brave Pink, dan Hero Green. Warna-warna ini bukan sekadar tren visual, melainkan penanda identitas kolektif dalam sebuah gerakan sosial. Setiap warna punya kisahnya sendiri: Resistance Blue dipelopori oleh gerakan Peringatan Darurat, Brave Pink terinspirasi dari keberanian Ibu Ani—seorang ibu berjilbab pink yang berdiri tegak menghadapi barisan Brimob, sementara sementara Hero Green dilekatkan pada kisah almarhum Avam Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban demonstrasi, merepresentasikan pengorbanan.
Fenomena ini tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dalam gelombang gerakan 17+8 TUNTUTAN RAKYAT: Transparansi. Reformasi. Empati. Gerakan ini menolak rezim yang kian represif, abai pada suara rakyat, dan gagal menegakkan keadilan sosial. Dalam lanskap perlawanan ini, warna menjelma menjadi tanda pengikat—cara sederhana namun efektif untuk menyatakan: kami ada, kami melawan.
Warna tidak pernah netral. Ia selalu membawa muatan makna, dibentuk oleh konteks sosial-politik. Resistance Blue adalah alarm: peringatan darurat bahwa demokrasi kita berada di ujung tanduk.. Brave Pink menandai keberanian rakyat kecil, diwujudkan oleh tubuh seorang ibu yang memilih berdiri ketimbang mundur. Sementara Hero Green adalah simbol pengorbanan—dari seorang pekerja yang gugur di jalan, namun memantik kesadaran bahwa ojek online menjadi pahlawan kolektif.
Di titik ini, warna berfungsi sebagai bahasa politik. Ia menyampaikan pesan lebih cepat daripada teks, lebih emosional daripada jargon. Dengan sebaran poster digital, warna menyatukan pengalaman perlawanan yang beragam ke dalam satu identitas kolektif.
Antonio Gramsci pernah menulis bahwa hegemoni tidak hanya dibangun lewat struktur formal, tetapi juga melalui simbol dan budaya. Warna adalah bagian dari war of position: ia menyusup ke ruang sehari-hari—tak hanya poster digital bahkan avatar media sosial—dan perlahan menegaskan garis pemisah antara “kami” dan “mereka.”
Secara historis, warna memang selalu hadir dalam gerakan sosial. Revolusi Oranye di Ukraina, Gerakan Payung Kuning di Hong Kong, hingga Aksi Kamisan dengan payung hitam di depan Istana Kepresidenan—semuanya menunjukkan bahwa warna mampu memadatkan pesan politik menjadi simbol visual yang mudah dikenali. Kini, Resistance Blue, Brave Pink, dan Hero Green adalah wajah baru simbolisme itu: lahir dari ruang digital, tetapi mengakar di jalanan.
Karena itu, penting bagi kita menjaga warna-warna ini. Jangan sampai ia berhenti hanya sebagai tren visual semata, melainkan harus diingat sebagai memori kolektif—akar dari nilai, pengalaman, dan perjuangan konkret.
Gerakan 17+8 TUNTUTAN RAKYAT turut menjadi upaya merajut identitas bersama. Warna berfungsi sebagai penanda simbolik perlawanan yang menyatukan mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja informal, hingga pengemudi ojek online dalam satu barisan kebersamaan.
Alberto Melucci menekankan bahwa gerakan sosial tidak hanya mengejar perubahan struktural, tetapi juga menciptakan makna dan simbol pemersatu. Warna adalah wujud konkret dari itu: ketika seseorang menggunakan kombinasi Resistance Blue, Brave Pink, dan Hero Green, ia sedang berkata “saya bagian dari perlawanan”.
Fenomena penggunaan simbol warna ini mengajarkan bahwa politik rakyat bukan hanya soal kebijakan atau institusi, tetapi juga soal imajinasi dan representasi. Warna membuat perlawanan lebih mudah dikenali, lebih cepat menyebar, dan lebih kuat mengikat solidaritas lintas kelompok.
Namun, tantangannya jelas—bagaimana menjaga agar warna tidak direduksi menjadi gimmick politik oleh para elite nantinya. Ia harus tetap menjadi bahasa otentik rakyat yang lahir dari pengalaman konkret dan bahkan pengorbanan, dipelihara oleh solidaritas nyata.
Layaknya sejarah membuktikan, warna selalu mampu menyalakan api perlawanan. Jika biru adalah darurat, pink adalah keberanian, dan hijau adalah pengorbanan, maka ketiganya adalah pertanda jika rakyat sedang bergerak.
Tulisan oleh: Abu Dzar Alghifari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi (PT) Universitas Hasanuddin…
Tulisan oleh: Andi Erika Pembangunan selalu terdengar indah ketika dibicarakan lewat angka, investasi, dan janji…
Tulisan oleh: Sitti Zaenab Al Fitriyah Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Fakultas Ilmu Sosial dan…
Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Klub Kine dan Fotografi (KIFO) di bawah naungan Korps Mahasiswa…
Tulisan oleh: Sitti Zaenab Al-Fitriyah Communication Study Club (CSC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOSMIK) Universitas…
Tulisan oleh: Sitti Zaenab Al-Fitriyah Biro Communication Games, Sport, and Art (Comgastra) Korps Mahasiswa Ilmu…