Artificial Intelligence sebagai Tantangan Baru bagi Etika dan Praktik Komunikasi

0
15
Foto: Tangkapan Layar

Tulisan oleh: Tim CSC dan Baruga

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam memahami seni dan kreativitas. Dalam perkembangannya, AI tidak hanya menjadi teknologi yang membantu manusia, tetapi juga menghadirkan pertanyaan baru mengenai batas antara kemampuan manusia dan mesin.

Pada pembahasan mengenai AI dan seni, terdapat alur pemikiran mulai dari esensialisme wahana, seni konseptual, pasca-wahana, AI, hingga meta-kreativitas. Pembahasan tersebut melihat bagaimana kecerdasan buatan meradikalisasi cara manusia memahami seni.

Salah satu hal yang dibahas adalah mengenai “akal imitasi” dan “akal betulan”. Akal imitasi merupakan istilah atau padanan dalam bahasa Indonesia untuk menyebut Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Sementara itu, akal betulan mengacu pada kesadaran, daya pikir, dan akal budi alami yang dimiliki manusia.

AI dan Seni

Ketika membicarakan AI dan seni, keduanya tidak dapat dipisahkan. Jika dilihat dari sudut pandang pemikiran manusia, AI pada dasarnya merupakan cerminan dari pikiran manusia itu sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana manusia bekerja, memperluas kemampuannya, serta merefleksikan diri melalui karya seni.Seni memiliki medium sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, nilai estetika, maupun emosi seorang seniman. Medium menjadi jembatan komunikasi antara pemikiran seniman dengan indra penikmat seni.

Setiap cabang seni memiliki medium yang berbeda, seperti:

1. Sastra melalui kata.

2. Seni lukis melalui rupa atau kanvas.

3. Musik melalui bunyi (sonic).

4. Film melalui gerak dan gambar.

5. Teater melalui tubuh dan ruang.

Namun, pada tahun 1960-an terjadi keretakan wahana yang menghasilkan perubahan dalam cara memahami seni. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa pandangan dari tokoh seperti Joseph Kosuth, René Magritte, John Cage, dan Kenneth Goldsmith.

Joseph Kosuth melalui karya One and Three Chairs menghadirkan tiga representasi kursi yang menunjukkan bahwa medium bukanlah hal utama, melainkan konsep yang ingin disampaikan.René Magritte melalui karya La Trahison des Images menghadirkan benturan antara gambar dan teks. Karya tersebut mengajak manusia berpikir mengenai hubungan antara representasi dan realitas.

John Cage melalui karya 4’33” menghadirkan pertunjukan ketika ia naik ke panggung, membuka pianonya, lalu diam selama empat menit tiga puluh tiga detik. Karya tersebut menunjukkan bahwa musik dapat tetap hadir tanpa adanya bunyi.

Sementara itu, Kenneth Goldsmith melalui karya The Weather melakukan transkripsi laporan cuaca radio selama satu tahun. Karya tersebut menunjukkan bahwa sastra tidak selalu membutuhkan penciptaan baru, melainkan dapat melalui proses rekam ulang. Gagasan ini kemudian dianggap mendahului logika kerja AI.

AI dan Meta-Wahana

AI meradikalisasi kondisi pasca-wahana karena kemampuannya menerjemahkan ekspresi dari satu medium ke medium lainnya. Melalui AI, teks dapat diubah menjadi gambar, teks menjadi video, maupun teks menjadi musik.Untuk memahami Artificial Intelligence, terdapat dua kerangka pemikiran yang dapat digunakan.

Pertama, Gilles Deleuze menjelaskan bahwa suatu bentukan yang dirakit secara arbitrer tidak memiliki kesatuan organik seperti yang terdapat pada tubuh manusia.

Kedua, Karl Marx menjelaskan bahwa mesin merupakan general knowledge masyarakat yang diekspresikan secara fisik dalam bentuk material. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa teknologi pada masa depan dapat berkembang berdasarkan akumulasi pengetahuan manusia.

Dalam perkembangannya, AI memiliki tiga karakteristik sebagai meta-wahana, yaitu melampaui batas fisik wahana (meta-medium), netralitas wahana (medium neutrality), dan sifat sosial (socially produced).

Artificial Intelligence pada dasarnya hadir sebagai tools yang membantu manusia menerjemahkan kreativitas dan ide yang muncul dari pikirannya. Oleh karena itu, dalam penggunaan AI, manusia tetap perlu memiliki landasan ide yang kuat untuk diterjemahkan melalui prompt.

Ketika AI menghasilkan suatu karya berdasarkan perintah tersebut, hasil yang muncul tetap menjadi tanggung jawab pengguna. Sebab, AI bekerja berdasarkan instruksi manusia dan tidak dapat menggantikan kesadaran, pemikiran, serta tanggung jawab etis yang dimiliki manusia.

Sumber: Diskusi CSC Corner (28 Juli 2026)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here