Cinta Bukan Cokelat: Meneropong Makna Cinta

0
547

Teks oleh Adelia Sufri 

Foto: Goodreads

Judul buku      : Cinta Bukan Cokelat

Pengarang       : Saras Dewi

Penerbit           : Kanisius

Tahun terbit    : 2009

Dimensi buku  : 127 halaman, 15 x 15 cm

Cinta memang perkara yang tidak akan usai perbincangannya. Meski nyaris semua orang merasakan pengalaman jatuh cinta tapi tetap saja pemahaman tentang cinta seperti tidak menemukan titik terang. Orang-orang cenderung memberi makna tentang cinta berdasarkan pengalaman mereka sehingga ada banyak perspektif tentang cinta. Ada yang mengatakan cinta itu manis dan candu seperti cokelat, menyakitkan seperti duri pada mawar, dan masih banyak lagi persepsi tentang cinta. Tetapi apa sebenarnya makna cinta itu?

Saras Dewi di bukunya yang ketiga ini, Cinta Bukan Cokelat, mencoba untuk menyampaikan pemahaman tentang makna cinta melalui teori-teori filosofis, sesuai dengan latar belakang Saras Dewi sebagai Dosen Filsafat di Universitas Indonesia. Saras Dewi mengajak pembaca menyelami pemikiran para filsuf yang mumpuni di bidang asmara. Dia menjelaskan bagaimana konsep cinta yang sudah ada sejak era filsafat kuno ditilik dari sudut pandang Plato, Erich Fromm, Stendhal dan filsuf-filsuf lainnya.

Meskipun terkesan berat karena bertumpu pada teori-teori filososfis tetapi sesungguhnya buku ini dikemas dengan menarik sehingga tidak membebani pembaca. Penggunaan bahasanya ringan sehingga membuat pembaca mudah mengerti pesan yang ingin disampaikan, ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi yang menyegarkan mata, buku ini jadi jauh dari kesan “berat” meskipun konteks yang diusung adalah filsafat.

Buku ini juga banyak menceritakan contoh kasus asmara anak muda yang relevan dengan teori filosofis tadi. Sebagaimana yang kita ketahui, kisah-kisah selalu menjadi senjata yang tepat untuk membuat sebuah pesan sampai kepada pembaca.

Seolah penjelasan dari sisi filosofis tidak cukup, Saras Dewi pun mengajak kita untuk ikut meneropong tentang cinta dari sisi sains. Bahwa ternyata cinta berkaitan juga dengan kinerja otak manusia. Saras Dewi mengungkapkan bahwa mamalia selain manusia pun bisa merasakan cinta. Perspektif ini menjadikan buku Cinta Bukan Cokelat semakin menarik untuk disimak.

Tidak lupa pula Saras Dewi menjelaskan tentang valentine’s day di dalam buku ini, hal yang selalu berkaitan erat dengan pembahasan soal cinta. Saras Dewi menjelaskan mengenai hari kasih sayang tersebut dimulai dari sejarah kelahirannya sampai esensi dari valentine’s day itu sendiri.

Buku Cinta Bukan Cokelat ini cocok dibaca oleh semua kalangan yang benar-benar ingin tahu tentang cinta. Konsep filsafat cinta yang dijelaskan tidak berat sama sekali. Dari awal hingga akhir kalimat, kita akan menemukan konsistensi Saras Dewi dalam menggunakan gaya bahasa yang sederhana. Saras Dewi memang seperti menyasar anak muda agar mereka tidak anti dengan penjelasan-penjelasan soal filsafat, sebab ada berbagai pandangan filsuf yang ditawarkan di buku ini.

Pada akhirnya, Saras Dewi melalui buku ini berhasil mematahkan mitos bahwa filsafat itu memusingkan dan sukses meninggalkan kesan yang yang unik soal filsafat cinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

thirteen + 2 =