Tulisan oleh: Asmaul Husna
Judul Asli: Purachina Dēta (プラチナデータ)
Judul Terjemahan: Platina Data
Penulis: Keigo Higashino
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025
Tebal: 480 halaman
Novel ini menceritakan bagaimana sebuah sistem berbasis data DNA dibangun untuk meningkatkan keamanan dan mempercepat proses pengungkapan kejahatan. Namun, di balik kecanggihannya, muncul persoalan yang lebih kompleks: bagaimana jika sistem yang seharusnya melindungi masyarakat justru digunakan untuk melindungi kepentingan pihak yang berkuasa?
Cerita diawali dengan kasus pembunuhan seorang mahasiswi yang sedang diselidiki oleh Asama. Dari sehelai rambut yang ditemukan, ia diperintahkan oleh Kepala Divisi Nasu untuk membawanya ke Gudang Tokyo milik Badan Kepolisian Nasional. Di sana, ia bertemu Shiga Takashi dan Kagura Ryuhei, dan baru mengetahui bahwa telah dikembangkan sebuah sistem yang mampu menganalisis DNA untuk mengungkap kejahatan.
Sejak awal, Asama merasa ada yang tidak beres. Sementara itu, Kagura, sang kepala analis, melihat kekhawatiran tersebut belum berdasar. Baginya, sistem ini dibuat demi keamanan dan keadilan. Namun, masalah semakin rumit ketika muncul kasus pembunuhan dengan DNA pelaku yang tidak sepenuhnya dapat ditelusuri. Di saat yang sama, Tateshina bersaudara, mitra Kagura sekaligus pengembang utama sistem tersebut, ditemukan tewas secara misterius.
Kagura sendiri tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan. Ia bahkan terdeteksi sebagai tersangka utama dalam kasus pembunuhan yang sedang diselidiki oleh sistem DNA yang ia bangun sendiri. Di sisi lain, ada pihak yang bersembunyi dan memanipulasi penyelidikan melalui sistem yang selama ini ia percaya dapat menciptakan keadilan.
Dari sini muncul sebuah pertanyaan: apakah sebuah sistem benar-benar dirancang untuk keadilan, atau sejak awal dapat dibentuk untuk mengontrol masyarakat dan mempertahankan kepentingan mereka yang berkuasa?
Pertanyaan tersebut terasa semakin jelas di bagian akhir, ketika Kagura membongkar dalang di balik manipulasi dan berhadapan dengan Direktur Shiga. Alih-alih memperbaiki sistem dan menegakkan keadilan, Shiga justru menawarinya posisi dan uang agar diam, sembari berkata, “Di zaman mana pun, yang namanya status sosial akan selalu ada. Manusia tidak akan pernah setara.”
Kalimat itu membuat saya sadar bahwa persoalan Platina Data bukan hanya tentang teknologi, melainkan juga tentang relasi antara sistem dan kekuasaan. Teknologi bisa terlihat objektif karena bekerja berdasarkan data, tetapi orang yang merancang dan mengendalikannya tetap memiliki kepentingan sendiri.
Pada akhirnya, Platina Data tidak hanya mengajak kita mempertanyakan kecanggihan sebuah sistem, tetapi juga siapa yang berada di balik sistem tersebut. Jadi, apakah melawan sistem yang sudah dikuasai penguasa itu sia-sia? Atau yang perlu dilawan bukan hanya sistemnya, tetapi juga cara kita membiarkannya dikendalikan oleh mereka yang berkuasa?
Sebab, pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “Apakah sistem ini benar?”, melainkan “Untuk siapa sistem ini sebenarnya bekerja?”




