Foto by pinterest
Tulisan oleh: Zildan Maulana Yusuf
Yes, and how many times must a man look up
Before he can see the sky?
Yes, and how many ears must one man have
Before he can hear people cry?
Yes, and how many deaths will it take ’til he knows
That too many people have died?
Blowin’ in the Wind
Songwriters: Bob Dylan
Lagu itu terputar begitu saja, di jam tiga pagi, ketika ponsel sudah tidak lagi dipenuhi notifikasi dan linimasa untuk sementara berhenti bergerak. Dan di keheningan itu, liriknya terasa seperti tercipta untuk kondisi Indonesia tahun ini.
Lagu ini ditulis pada 1962 oleh musisi bernama Robert Dylan, yang lebih dikenal dengan nama Bob Dylan, di tengah pergulatan Amerika dengan perang, perjuangan hak-hak sipil, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Lagu tersebut seperti rangkaian pertanyaan, seberapa lama seseorang harus menderita sebelum penderitaannya dapat dilihat? Berapa banyak kematian yang diperlukan sebelum manusia menyadari bahwa perang adalah tragedi? Berapa lama kebebasan harus ditolak sebelum manusia mengakuinya sebagai hak?
Lebih dari enam dekade kemudian, pertanyaan-pertanyaan itu kembali terasa dekat ketika melihat Indonesia hari ini.
Kebakaran, persoalan lingkungan, perdebatan mengenai program pemerintah, kesulitan pangan, hingga berbagai bentuk ketimpangan muncul silih berganti di ruang publik. Informasi mengenai semua itu hadir hampir tanpa jeda melalui layar ponsel. Kita melihat gambar, membaca berita, menyaksikan video, memberi komentar, lalu berpindah ke berita berikutnya.
Kita hidup di zaman ketika informasi tidak lagi sulit ditemukan. Dengan internet, satelit, media sosial, dan teknologi pengolahan data, masyarakat dapat mengetahui sebuah persoalan bahkan ketika persoalan itu baru saja terjadi. Kita bisa melihat titik kebakaran lewat citra satelit, mengikuti perkembangan harga pangan, membaca laporan pemerintah, dan menyaksikan kesaksian masyarakat secara langsung.
Namun pertanyaan yang muncul selalu sama, apakah mengetahui berarti kita benar-benar bisa melihat? Jawabannya mungkin sebenarnya sudah ada di depan mata. Kita tahu apa yang salah, kita tahu siapa yang terdampak, dan dalam banyak kasus kita bahkan tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Barangkali persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, melainkan ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk mengubah informasi menjadi tindakan. Kita hidup dalam siklus yang bergerak makin cepat di mana sebuah tragedi terjadi, masyarakat bereaksi, kemarahan memenuhi media sosial, perhatian publik memuncak, lalu sebuah isu baru datang dan menggantikannya.
Penderitaan bisa berubah menjadi konten. Kemarahan bisa berubah menjadi tren. Dan setelah algoritma bergerak ke topik berikutnya, masalah yang sama bisa kembali tenggelam.
Barangkali karena itu pertanyaan-pertanyaan tersebut baru terasa berat justru di jam tiga pagi di saat tidak ada lagi notifikasi baru yang bisa dijadikan alasan untuk berpindah, dan satu-satunya yang tersisa hanyalah pertanyaan itu sendiri.
The answer is blowin’ in the wind.
Tulisan oleh: Nur Muthya Salwa Judul Film: Spider-Man: Brand New DaySutradara: Destin Daniel CrettonPenulis Skenario:…
Tulisan Oleh: Aflahulkhalis Klub Kine dan Fotografi (KIFO) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas Hasanuddin…
Tulisan Oleh: Nadine Arsetya Prabowo Ada hal-hal yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari…
Tulisan Oleh: Tim Baruga dan CSC Komunikasi politik bukan sekadar proses penyampaian informasi, melainkan proses…
Tulisan Oleh: Nur Muthya Salwa Communication Study Club (CSC) Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Kosmik) Universitas…
Tulisan oleh: Muhammad Hisyam Zuhair Judul Asli: Factfulness: Ten Reasons We're Wrong About the World…