Dilema Pembangunan dan Ruang hidup

0
14
Sumber gambar: Screenshot film Pesta Babi.

Tulisan oleh: Andi Erika

Pembangunan selalu terdengar indah ketika dibicarakan lewat angka, investasi, dan janji kesejahteraan. Namun dalam Film Dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, memperlihatkan sisi lain yang jarang diketahui oleh publik : bahwa di balik ambisi besar negara, selalu ada masyarakat yang harus membayar harga paling mahal.

Hal yang membuat film ini menarik adalah ia tidak hadir dengan hitam-putih yang sederhana. Saya pribadi, masih percaya bahwa tujuan Proyek Strategis Nasional, terutama terkait biodiesel dan bioetanol, sebenarnya punya niat yang baik. Negara ingin mengurangi ketergantungan impor BBM dan mencari alternatif energi yang dianggap lebih berkelanjutan. Bahkan jika dibandingkan dengan tambang yang mengeruk bumi besar-besaran, proyek seperti ini sekilas terlihat lebih “ramah lingkungan”.

Tetapi, persoalannya ternyata bukan hanya soal tujuan, melainkan cara pembangunan itu dijalankan.

Film ini menunjukkan bagaimana tanah adat di Papua perlahan berubah menjadi objek investasi. Masyarakat lokal dipaksa menghadapi situasi di mana tanah yang selama ini menjadi ruang hidup mereka justru dapat diambil atas nama kepentingan nasional. Dan yang lebih miris, ada cerita tentang lahan yang dihargai sangat rendah, bahkan disebut hanya sekitar ratusan ribu rupiah per hektar. Entah itu murni kebijakan dari atas atau mungkin sebuah praktik yang bermasalah di lapangan. Namun, tetap saja semuanya sulit diterima secara logika maupun kemanusiaan.

Ironinya, masyarakat Papua juga belum benar-benar ditempatkan sebagai bagian utama dari pembangunan tersebut. Sawah dan lahan memang dibuka, tetapi banyak pekerjanya justru berasal dari transmigran, bukan warga lokal sendiri. Pada akhirnya, yang terlihat semakin diuntungkan adalah kelompok pemilik modal dan pengusaha besar, sementara masyarakat asli kembali berada di posisi paling rentan di tanah mereka sendiri.

Ada satu poin dalam film ini yang menurut saya sangat penting tetapi jarang dibahas: ketika pangan mulai diperlakukan sebagai sumber energi, maka perut manusia akan mulai bersaing dengan kebutuhan mesin. Biodiesel dan bioetanol memang menawarkan solusi energi alternatif, tetapi di saat yang sama juga bisa memicu kenaikan harga pangan karena bahan pangan ikut diperebutkan industri bahan bakar.

Film ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang Papua. Ia berbicara tentang bagaimana pembangunan sering kali terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, sampai lupa memastikan siapa yang benar-benar ikut disejahterakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here