Fallacy of Thinking atau Cacat Logika

0
442

Resume Kelas Dasar Logika dan Filsafat

Nama : Loisasita Jecklyn

NIM : E021201054

Fallacy of Thinking atau Cacat Logika

Cacat logika sering juga disebut sebagai sesat pikir atau kesalahan berpikir yang kerap terjadi. Berikut beberapa jenis-jenis kesalahan berpikir :

1. Argumentum ad antiquitatem

Hal yang sering dilakukan sebelumnya dianggap sebagai hal yang benar. Ini termasuk cacat logika yang populer. Misalnya, untuk menginstal Windows, kita bisa meminjam CD instalasi Windows dari rental CD dan menginstalnya dengan bantuan crack atau serial number yang sudah disediakan.

2. Argumentum ad hominem

Saya jamin, cacat logika ini sering kita dengar dan mungkin kita lakukan. Argumentum ad hominem merupakan pendapat yang menyerang kepribadian orang atau motif orang alih-alih menyerang ide atau gagasannya. Misalnya, ide bu menteri untuk meledakkan kapal-kapal pencuri ikan adalah hal yang konyol dan bodoh karena dia hanya lulusan SMP.

3. Argumentum ad ignoratium

Ketika ada orang yang membenarkan sesuatu karena sesuatu itu belum terbukti keberadaannya, maka ia telah melakukan cacat logika ini. Misalnya, ketika guru mengatakan di depan kelas, “karena tidak ada yang bertanya mengenai materi tadi, besok kita ujian.”

4. Argumentum ad logicam

Sedikit berhubungan dengan cacat logika sebelumnya, argumentum ad logicam adalah anggapan bahwa sesuatu itu salah karena hal yang menyebabkan sesuatu itu salah. Misalnya, presiden Sukarno hebat karena telah mengurangi depresi masyarakat Indonesia. Presiden mengurangi depresi masyarakat Indonesia? Belum tentu. Namun tidak berarti pernyataan “presiden Sukarno hebat” salah.

5. Argumentum ad misericordiam

Ketika ada orang yang memaksakan kebenarannya dengan rasa kasihan, maka dia telah melakukan cacat logika ini. Misalnya, ketika ibu Miriam menyalahkan tindakan gegabah para Avengers atas meninggalnya sang anak akibat pertempuran Avengers dengan kelompok Crossbones.

6. Argumentum ad nauseam

Cacat logika ini terjadi saat sebuah argumen yang belum tentu benar atau bahkan salah, yang selalu diulang-ulang, sehingga akan dianggap benar secara otomatis. Atau argumen yang sudah benar, tapi terus diulang-ulang sehingga menutupi objek debat sebenarnya. Misalnya, anggapan bahwa global warming itu tidak ada dan hanya akal-akalan.

7. Argumentum ad numerum

Cacat logika bisa timbul saat seseorang berusaha membuktikan kebenaran argumennya dengan cara menunjukkan jumlah orang yang percaya dengan argumennya. Misalnya, pernyataan “paling tidak ada 70 persen masyarakat yang muak dengan presidennya.”

8. Argumentum ad populum

Cacat logika ini identik dengan argumentum ad numerum, yang berusaha membuktikan bahwa masyarakat umum setuju dengan kita.

9. Argumentum ad verecundiam

Cacat logika yang konyol. Argumentum ad verecundiam akan aktif ketika kita ingin membuktikan sesuatu dengan cara mengutip pernyataan seseorang yang tidak ahli di bidangnya. Misalnya, “Pemanasan global tidak benar, menurut Kak Seto, pencairan di beberapa titik di benua Antartika adalah hal normal, yang akan pulih sekitar delapan bulan sekali.”

10. Strawman fallacy

Cacat logika yang terjadi ketika seseorang melakukan kesalahan interpretasi (mendistorsi pesan) terhadap lawan bicaranya hanya karena satu dua argumen atau ciri khas tertentu yang disampaikan sang lawan. Contohnya :

A: Menurut antum bentuk pemerintahan apa yang memang patut diterapkan di Indonesia?

B: Jelas, demokrasi Pancasila! Demokrasi Pancasila itu sudah harga mati, tak bisa ditawar lagi. Lalu, menurutmu sistem pemerintahan Islam atau khilafah menjamin keadilan maupun kemakmuran negara?

A: Anda menuduh saya sebagai penganut sistem khilafah karena panggilan “antum”?

B : Telah melakukan strawman fallacy.

11. False Equivalence

Sebuah cacat logika yang bermaksud menyamakan dua hal, padahal faktanya keduanya berbeda. Contoh, “Pistol dan nuklir adalah senjata. Selama ini warga negara Amerika Serikat diizinkan memiliki pistol sehingga seharusnya mereka juga diizinkan memiliki nuklir”.

12. Red Herring Fallacy

Saat seseorang mengeluarkan argumen untuk mengalihkan topik utama yang sedang diperbincangkan, dia telah berhasil melakukan cacat logika ini. Contoh, seorang murid tertangkap tangan telah mencontek saat ujian. Murid tersebut berkata, “saya tahu saya salah, Bu. Tapi, Bu, tolong bayangkan bagaimana perasaan orang tua ketika mereka melihat saya duduk di sini. Mereka akan patah hati, Bu. Sumpah.”

Ibu guru: Yhaa~

Murid tersebut melakukan Red herring fallacy.

13. Argumentum ad baculum

Cacat logika ini terjadi ketika seseorang memaksa orang lain agar menyetujui pendapatnya dengan cara mengancam, mengintimidasi, dan cara buruk lainnya. Contoh kasusnya,

Pendukung Prabowo: coblos pak Prabowo! Kalau tidak mau, masjid tidak akan ada azan lagi.

Pendukung Jokowi: coblos pak Jokowi! Kalau tidak mau, Indonesia akan dikuasai HTI.

Kedua pendukung calon presiden sama-sama melakukan cacat logika ini.

14. Argumentum ad temperantiam

Jika seseorang menyebutkan argumen yang bermaksud menengahi dua argumen ekstrem, orang tersebut telah melakukan cacat logika ini. Pernah dengar pernyataan “kebenaran berada di tengah-tengah” atau semacam itu? Naah … argumentum ad temperantiam bermain di pernyataan tersebut. Contohnya dapat dilihat saat masa krisis ini, ketika kurva wabah masih terus naik. Belum turun-turun.

A bilang, “Indonesia harus lockdown”.

B bilang, “Indonesia harus herd immunity”.

C bilang, “Indonesia harus mulai hidup berdampingan dengan korona.”

(Catatan: ini hanyalah ilustrasi, tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Karena, siapa pula yang benar-benar berkata seperti yang B katakan? Tidak ada, kan? Kan kan kan?)

15. Slippery Slope Fallacy

Apabila seseorang mencontohkan kejadian A akan memicu kejadian B, C, D, E, sampai Z dan Z dianggap tidak akan terjadi jika kejadian A juga tidak terjadi. Orang tersebut telah menyampaikan cacat logika ini. Contohnya :

Jangan sekali-kali mengirim pesan WhatsApp dengan ‘P’ saja. Itu akan menjadi kebiasaan. Suatu waktu kalian mengirim pesan ‘P’ saat melamar kerja. Tempat kerja kalian menolak. Kemudian kalian meminta bantuan teman, ternyata mereka juga menolak. Kalian bingung mengapa tempat kerja dan teman-teman tidak menerima kalian. Kalian bengong di jalan. Tertabrak mobil pikap lalu mati.

Mengirim pesan ‘P’ = mati muda.

16. Tu quoque

Cacat logika ini mirip seperti Red Herring. Ketika seseorang dikritik tapi kemudian malah menjawabnya dengan kritikan lain ke lawan bicaranya sehingga bahasan utama bergeser. Contoh, saat Anji dikritik atas konten videonya yang penuh disinformasi oleh warganet, tetapi Anji balik mengkritik warganet karena menganggap merekalah yang justru mempopulerkan video miliknya. Video Anji lain yang memiliki konten bermutu malah sedikit sekali yang menonton.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 + 17 =