Kutukan di Balik Birunya Laut

0
36
Foto: by pinterest

Tulisan: Nadin Arsetya Prabowo

Aku adalah Dika, seekor paus biru yang kini mengarungi samudera seorang diri. Laut yang dahulu dipenuhi tawa, kini hanya menyisakan kesunyian bagiku. Setiap kali cahaya matahari menembus permukaan air yang biru, aku teringat masa kecil ketika ibu dan dua sahabatku, Pafi dan Radi, masih berenang di sisiku. Mereka adalah rumah yang membuat lautan terasa hangat.

Suatu pagi Pafi dan Radi membangunkanku dengan jahilan konyol. Mereka menyelipkan tanaman laut yang membuat hidungku gatal hingga aku bersin. Kami pun tertawa bersama sebelum berpamitan kepada ibu untuk bermain. Saat bermain kami menjelajahi permukaan laut dan menemukan benda-benda asing yang belum pernah kami lihat. Ada cincin plastik, botol, kantong, dan serpihan kecil yang tampak seperti kawanan krill. Karena penasaran, kami menjadikannya mainan. Pafi begitu senang memainkan cincin plastik itu, sementara kami memakan serpihan-serpihan kecil yang kami kira makanan. Bahkan banyak paus dewasa menganggap benda-benda itu sebagai rezeki dari laut.

Hari-hari berlalu hingga Pafi menghilang. Ketika akhirnya kutemukan, ia terbaring lemah dengan cincin plastik yang melilit mulutnya. Ia tak lagi bisa membuka mulut dengan sempurna untuk mencari makan. Aku dan Radi mencoba segala cara untuk melepaskannya, tetapi semuanya gagal. Dalam pencarian bantuan, aku bertemu seekor kura-kura bernama Lian yang tubuhnya berubah bentuk karena bertahun-tahun terjebak cincin plastik. Saat itulah aku mulai sadar bahwa benda-benda yang kami anggap membawa kebahagiaan ternyata adalah perangkap yang perlahan merenggut nyawa.

Rasa penasaranku membawaku mengikuti sebuah perahu manusia. Dari balik ombak aku mendengar mereka berkata bahwa benda-benda itu hanyalah sampah yang sengaja dibuang ke laut agar tak terlihat siapa pun. Disitu dadaku rasanya dipenuhi oleh amarah, laut yang menjadi rumah bagi jutaan makhluk ternyata dijadikan tempat membuang sesuatu yang tak lagi mereka inginkan. Mereka mungkin mengira sampah itu menghilang, padahal semuanya hanya berpindah ke rumah kami.

Aku berenang secepat mungkin untuk memperingatkan ibu, Radi, dan kawanan paus lainnya agar menjauhi sampah itu. Namun aku terlambat. Keesokan harinya banyak paus terdampar di pantai. Dengan tubuh gemetar aku mencari wajah-wajah yang kukenal hingga akhirnya menemukan ibuku dan kedua temanku telah tak bernyawa. Perut mereka dipenuhi plastik yang selama ini mereka kira makanan. Pafi pun tak pernah sempat terbebas dari cincin yang membelenggunya. Saat itu aku mengerti bahwa yang membunuh mereka bukanlah laut, melainkan ulah manusia yang menganggap laut sebagai tempat sampah.

Kini aku tetap berenang meski kesepian mencari teman setiap hari. Tawa Pafi, senyum Radi, dan kasih sayang ibu hanya tinggal kenangan yang hidup di dalam hatiku. Aku hanyalah saksi dari kutukan yang diciptakan manusia itu sendiri. Kutukan yang tak hanya merenggut keluargaku, tetapi juga perlahan merenggut kehidupan seluruh penghuni laut.

Jika suatu hari manusia masih menganggap sampah yang dibuang ke laut hanya benda kecil yang tak berarti, semoga manusia mengingat kisahku ini. Sebab bagi mereka laut mungkin hanya tempat pembuangan, tetapi bagi kami itu menjadi akhir dari sebuah kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here