Tulisan oleh: Faiz Athaillah
Pada suatu hari yang cerah
“Cerah terus ceritanya, Pa,” celetuk seorang anak yang selalu mendengarkan premis cerita dongeng karangan ayahnya yang selalu sama. Diceritakan ke seorang anak yang suka menangis tanpa alasan apa pun secara spesifik. Seorang anak yang gagu, tak sempat menyampaikan perasaannya. Ini cerita-ceritaan yang kekanak-kanakan.
Memorinya usang sekarang, hanya dalam memori-memori yang menghangatkannya saja ia rayakan. Sekarang orangnya menjadi absurd, namun mulia di mata orang-orang terdekatnya. Kerap kali aksinya bombastis, pun ada yang kelewat bombastis. Banyak hal yang sudah dia coba; kata “gagal” adalah deskripsi terbaik untuk menggambarkan hal-hal yang berakhir menjadi khayalan. Tiap kegagalan dia lupakan. Di sana bisa kau lihat plin-plannya, dengan kekhawatiran yang dia tumpahkan dan cara absurdnya bertutur.
Pada suatu hari yang gerah, dilukiskan dengan amarah, dia terpaksa untuk menyerah.
“Maaf, Pa. Aku akan mendengarkanmu lebih baik.” Gemetar itu terasa. Kau bisa pilih lihat tandanya, dia akan tersandung, paranoid, dan hilang. Maka, sadarkah akan apa yang kau lihat?
Sekitarmu gagap untuk mengakui ini. Luka itu pasti. Saya ulangi lagi: ini cerita-ceritaan yang kekanak-kanakan. Jangan dibawa serius, pasti! Biarkan kata-katanya hilang, dibawa orang lain sampai akhirnya hilang makna seorang anak ini. Dia pendengar yang baik, pasti, namun lelah, dilahirkan mempunyai dua sepasang kuping yang entah suatu hari akan semakin sunyi. Orang-orang terdekatnya sadar, akan keterlambatan kesadaran itu. Terlelap di waktu istirahat dan terkikis di waktu bekerja. Semua punya kesibukan masing-masing dan mempunyai hidup yang harus dijalani. Semua diwajarkan, dan mereka saling menyerang untuk membawa cerita bermakna tentang anak ini.
Pada suatu hari yang cerah, di bawah matahari pagi, beberapa bangun yang dilanjuti melamun berjam-jam. Beberapa bahkan tak bangun pagi, dan beberapa baru mulai sadar. Ada yang bisa menghadapinya, ada yang melampiaskan ke orang-orang terdekatnya, dan ada juga yang melampiaskan ke dirinya sendiri.
Tak disangka, cerita-ceritaan yang kekanak-kanakan ini justru menjadi pesan berkelanjutan. Tentu akan ada kambing hitamnya. Tapi saya rasa cerita ini tidak masuk akal. Saya memilih untuk tidak percaya dongeng ini, dan saya harap kau juga begitu.
Lagi pula, ini hanya cerita yang sudah menjadi bola liar, dan saya hanya seorang pembawa cerita untuk seorang anak yang absurd tuturnya. Tidak! Dia tak begitu rupanya. Kosong. Banyak trik yang dia miliki di sakunya untuk menarik saya beraksi, dan buat saya gemetar takut untuk bergerak. Tidak mau terkikis lagi.
Jadi, cerita mana yang kau percayai?




