Sejauh Ini

0
18
Foto by Pinteret

Tulisan oleh: Putri Khairunnisa

Peralihan menuju dunia dewasa bukanlah hal yang menyenangkan, atau mungkin, hal itu hanya berlaku bagi Raska? Entahlah, ia pun tidak tahu jawabannya. Yang ia tahu, begitu memasuki usia dua puluh tahun, ada banyak kejutan yang datang dalam hidupnya. Suasana yang berbeda, orang-orang yang datang dan pergi, serta masa depan yang kian menakutkan untuk dibayangkan membuat laki-laki ini merasa kewalahan.

Raska bukanlah penyuka kegiatan berat. Bukan tipe laki-laki yang ketika orang melihatnya akan memuji perawakan bak olahragawan. Raska hanyalah laki-laki yang baru saja meninggalkan masa remajanya, berusaha bertahan di tengah hiruk-pikuk kehidupannya.

Selama ini, Raska mengira dirinya hanya akan terus terbelenggu dalam zona nyamannya. Mengira bahwa sampai kapan pun, dirinya akan menghindari kegiatan yang akan membuatnya semakin merasa lelah. Namun, segala hal yang dilaluinya belakangan ini perlahan membuatnya ingin keluar dari belenggu zona nyamannya itu.

Maka, hari itu, dengan berbekal video orang lain yang sengaja ia simpan dan tonton berulang kali hingga ia bisa mengingat dialognya, Raska memutuskan untuk mendaki salah satu gunung yang berada dua jam dari kota kelahirannya.

Tentu saja, Raska tidak sendirian. Ia ditemani tiga orang temannya yang berpengalaman di bidang pendakian. Walaupun keputusannya ini nekat dan menantang dirinya sendiri, Raska masih memiliki kesadaran penuh untuk tetap mengutamakan keselamatannya.

Berbekal ilmu yang ia dapatkan dari hasil menonton video orang lain, Raska mulai memasukkan barang-barang keperluan pendakian pertamanya. Air minum, camilan, P3K, jaket, buku yang berisi bunga kering di beberapa halamannya, tumbler berwarna biru yang isinya dibiarkan kosong, dan sebuah surat yang kertasnya sudah usang.

Raska menata barang-barang itu sedemikian rupa agar bisa ia bawa seluruhnya. Ia memastikan semuanya sudah masuk.

Tidak ada yang tertinggal.

Perjalanan dimulai tepat pukul 09.00 WITA. Raska berboncengan dengan salah satu temannya. Di sepanjang perjalanan, mereka banyak bercerita mengenai pendakian. Segala pertanyaan yang diajukan Raska dijawab dengan penuh semangat oleh temannya itu. Namun, begitu temannya yang bertanya,
“Kenapa mau mendaki?”

Raska hanya diam, memasang senyum kikuk.

“Gatau sih, mau nyoba aja,” jawabnya kemudian.

Jawaban yang sederhana. Bahkan Raska sendiri tidak yakin apakah itu benar-benar alasannya.

Mungkin ia hanya ingin mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan.

Mungkin juga ia hanya ingin melihat seberapa jauh dirinya bisa berjalan.

Singkat cerita, mereka akhirnya tiba di tujuan. Mereka langsung melakukan registrasi dan mengecek segala persiapan. Raska menarik napas, tidak menyangka hari ini akan datang.

Benar, ya, hidup memang selalu memberikan pilihan menarik untuk kamu jalani. Suka atau tidak, kamu tetap harus memilih.

Pendakian akhirnya dimulai.

Di sepanjang jalur, Raska tidak berhenti merapalkan betapa berbedanya jika gunung dilihat dengan mata kepala sendiri, bukan melalui video maupun foto dari orang lain. Jalur yang selama ini hanya ia lihat dari layar ternyata jauh lebih panjang ketika ia harus melewatinya sendiri.

Beberapa kali pula Raska terlihat memegangi tasnya sampai membuat temannya bertanya,

“Tas lo berat? Mau tukar sama gue aja?”

Yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Raska.

“Masih bisa.”

Raska tidak akan berbohong atau berpura-pura bahwa pendakian ini mudah saja. Nyatanya, sejak awal langkahnya sudah terasa berat. Apalagi, beban di tasnya ini terbilang sangat berat.

Sesekali ia berhenti. Mengatur napas. Memastikan teman-temannya masih berada di dekatnya. Lalu kembali berjalan.

Tapi, mau bagaimana lagi?

Semuanya sudah kepalang tanggung. Raska tidak mungkin mundur.
Ia terus melangkah.

Satu langkah.

Kemudian langkah berikutnya.

Sampai tanpa sadar, ia mulai berhenti menghitung seberapa jauh lagi mereka harus berjalan.

Dua jam berlalu dan mereka sudah semakin dekat menuju puncak. Aneh. Entah efek adrenalinnya yang memacu, atau karena Raska sudah mulai terbiasa dengan perjalanan ini, ia merasa langkahnya menjadi semakin ringan.

Padahal, tas yang ia bawa masih sama. Barang-barangnya masih lengkap. Tidak ada yang berkurang. Namun, rasanya berbeda. Seolah segala beban yang tadi ia bawa perlahan menghilang bersama langkah kakinya.

Raska bisa melihat di depannya ada hamparan luas sebelum akhirnya mereka mencapai puncak.

Dan akhirnya, Raska berhasil melakukan perjalanan pertamanya.

Teman-teman Raska turut merayakan pencapaiannya. Mereka bergantian memberi selamat atas berhasilnya Raska mencapai puncak bersama mereka. Raska tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak memikirkan seberapa berat langkah yang sudah ia lewati.

Ketika teman-temannya sibuk mengabadikan momen, Raska menyadari satu hal.

Beban di tasnya terasa ringan.

Sangat ringan sampai membuat ia berpikir mungkin saja tasnya sobek tanpa ia sadari dan isinya malah berjatuhan. Terburu-buru Raska membuka tasnya.

Oh.

Semua barang bawaannya masih ada. Tidak ada yang berkurang kecuali air yang sudah ia minum. Buku yang berisi bunga kering masih berada di tempatnya. Tumbler berwarna biru yang sejak awal dibiarkan kosong juga masih ada. Begitu pula dengan surat yang kertasnya sudah usang.

Semuanya masih lengkap.

Tidak ada yang hilang.

Raska menutup tasnya kembali. Kemudian, ia melihat ke arah hamparan luas yang berada di hadapannya.

Aneh.

Ia masih membawa barang yang sama. Tas yang sama. Beban yang sama.
Tapi entah mengapa, semuanya terasa jauh lebih ringan.

Raska tidak tahu apakah perasaan itu akan bertahan sampai ia kembali turun nanti. Ia juga tidak tahu apakah setelah ini hidupnya akan menjadi lebih mudah. Mungkin tidak.

Mungkin ketika kembali ke rumah, segala hal yang selama ini membuatnya kewalahan masih akan menunggunya. Masa depan masih akan terasa menakutkan. Orang-orang masih akan datang dan pergi. Dan mungkin, akan ada lebih banyak hal yang membuat langkahnya kembali terasa berat.

Tapi setidaknya hari itu Raska tahu satu hal.

Ternyata ia bisa berjalan lebih jauh dari yang selama ini ia kira.
Raska tersenyum. Kemudian kembali menghampiri teman-temannya.

Perjalanan belum selesai.

Namun, untuk kali ini, Raska tidak keberatan untuk kembali melangkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here