Maafkan Kami, Ibu Pertiwi Kini Menangis

0
1102

Teks oleh Nurin Nashfati

Kolase oleh Comgastra Kosmik/Muh. Furqan Al-Ihzam Atjo

“Sempat berkurang pada akhir September lalu, kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan (Sumsel) meningkat dalam dua hari terakhir. Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Sumsel mencatat pada selasa kemarin terdapat 125 titik panas, terbanyak di Kabupaten Ogan Komering Ilir, di antaranya di Kecamatan Pedamaran Cengal dan Tulung Selapan. Sepanjang tahun 2019 hingga akhir September lalu lebih dari 80 ribu hektar hutan dan lahan yang terbakar. BPBD mengerahkan tujuh unit helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara.”

Kopi yang kutegak terasa berkali lipat lebih pahit. Helaan nafas panjang kuhembuskan. Berita siang hari yang disiarkan TV milik kafe ini mengusik fokusku yang sedang berkutat dengan tugas-tugas kuliah. Niat awal ingin mencari tempat netral, ternyata pembahasan berbagai masalah di negeri ini pun tetap kutemui tak hanya di lingkungan kampus. 

Kuedarkan pandangan menyapu ruang kafe. Orang-orang sibuk saja berkutat dengan kepentingan masing-masing. TV itu diabaikan. Koar para reporter yang memberitakan secara serius tidak kunjung mengusik empati mereka yang tak merasakan dampak secara langsung. Aku lagi-lagi menghela nafas. 

“Mbak. Sudah jam segini. Ayo, ke kampus. Nanti kita ditinggalkan rombongan.” 

Goyangan pelan di lenganku membuat fokusku beralih. Aku mengangguk. Segera bergerak mengikuti kegiatan temanku yang membereskan barang-barang di atas meja. Tak terasa dua jam kami menghabiskan waktu di sini setelah kelas pagi berakhir. Cuaca semakin panas. Cahaya terik masuk dari sela-sela jendela, menyinari kafe bergaya klasik ini sehingga semakin berkilauan.

Setelah selesai, kami kemudian bergegas ke kasir untuk membayar. Untung saja antrean tidak begitu panjang. Mataku yang bosan tak sengaja menangkap interaksi pegawai dan pembeli di pintu keluar. Mereka diberikan suvenir tumbler berilustrasikan Pattimura yang sedang menggenggam keris. Aku terdiam. Pandanganku beralih ke sekeliling kafe. Apa kafe ini mengusung tema pahlawan?

“Wah, iya. Sebentar lagi Hari Pahlawan, ya. Aku kok lupa.” 

Temanku menyahut dari samping, ternyata dia juga memperhatikan apa yang aku lihat. Ah, benar juga. Hari pahlawan sebentar lagi dirayakan.

“Kok jadi de javu, ya, mbak. Kita bakal kembali ke masa-masa pas pahlawan dulu lawan penjajah.”

Aku meringis, membenarkan ucapannya. “Ya. Padahal sudah berpuluh-puluh tahun berlalu.”

Kemudian kami pun melesat kembali ke kampus. 

Siang hari ini terasa berbeda dari biasanya. Kampusku yang biasanya tentram kini sedang dipenuhi bunyi sirine yang memekakkan telinga. Gaungan ajakan dikumandangkan oleh para mahasiswa, tak kenal lelah berseru-seru dengan suara yang dilantangkan. Sebuah aksi besar hendak dilaksanakan. Perjalanan mengitari kampus untuk memanggil massa lain dihiasi panasnya matahari yang menyengat kulit. Dahaga menggerogoti kerongkongan yang kering. Namun yang kutakjubkan, tak kunjung ada yang melepaskan diri. Barisan merah itu setia berjalan dengan rapi. Bentuknya menyerupai api yang siap membakar negeri ini. 

Aku berada di barisan itu. Menjadi salah satu dari mereka yang sudah semakin resah dengan negeri. Akhir-akhir ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tak masuk di logika. Proses pembuatannya terkesan terburu-buru, dan rakyat tak dilibatkan di dalamnya. Geram saja membaca rentetan peraturan yang merugikan pihak rakyat, padahal negeri ini berlandaskan demokrasi yang seharusnya memprioritaskan rakyat. Negeri ini sedang krisis-krisisnya dengan segala permasalahan yang ada, tapi kenapa mereka malah semakin ingin merenggut kebahagiaan kita? Pertanyaan itu kemudian menjadi alasan mengapa aku memutuskan untuk turun di aksi besar ini, bergabung dengan para agent of change yang menyatukan keresahan yang sama. 

Massa dari kampusku kemudian tiba di depan gedung DPRD, titik kumpul aksi, setelah melakukan long march dari universitas. Ribuan manusia telah berkumpul mendahului kami. Mereka yang merupakan teman mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, rakyat, pekerja, kini bersatu untuk menuntaskan masalah ini. Sorak-sorakan ramai mereka menyambut dengan hangat. Gemuruh teriakan perjuangan menggema di pusat kota, semakin membara karena percaya api-api yang mereka nyalakan telah menjalar. Aku tersenyum. Darah berdesir mengingat kini diriku berada di lautan manusia yang tulus mencintai negeri. Namun satu sisi tertawa miris, melihat ribuan aparatur negara yang siap siaga dengan mempersenjatai diri. Sebegitu terancamnya kah dengan kami yang padahal hanya mengandalkan orasi? 

Namun kemudian, semuanya terjadi dalam sekejap mata. Tak cukup 10 menit massa duduk di depan gedung DPRD, provokasi terlambat kita cegah. Serangan datang. Gas air mata ditembakkan berkali-kali, massa berhamburan, suasana mendadak ricuh. Batu melayang dimana-mana, umpatan marah orang-orang dan aparatur negara yang bagai belut sigap memukul dan melumpuhkan siapapun yang berada di pandangannya. Kami semua berlari melindungi diri, ketakutan setengah mati. 

“Yang cewek harus diamankan!”

“Ada yang terluka di bagian utara!”

“Lari, lari! Gas airmata!” 

“Woi mahasiswa dipukuli di sana!” 

“Bubar kalian! Ngapain cewek ikut ginian hah?! Tinggal saja di rumah!”

Segala teriakan berdenging memenuhi indera pendengaranku. Pandanganku buram, langkah kakiku sempoyongan mengikuti tarikan kencang mereka yang berada di depanku. Panik. Takut. Tegang. Marah. Semua bercampur menjadi satu. 

Di tengah kerusuhan, di dalam tempat persembunyian dengan badan berbau asap, mata berair dan sulit bernapas, aku menangis.  Tak ada yang menyambut dengan baik suara hati kami.  Segalanya dibungkam dengan represif, dan pemerintah mendadak menjadi musuh kita. 

Lalu kisah ini terus berlanjut. Hari demi hari, negeriku semakin kelabu. Ketegangan terjadi di seluruh penjuru kota. Pergerakan mahasiswa menjalar kemana-mana, membangkitkan semangat untuk ikut andil menuntaskan masalah yang ada. Namun tekanan pun kian menguat. Satu persatu korban berjatuhan. Pertikaian terjadi. Darah bersimbah di jalan. Amarah tak terbendung hingga di media sosial. Dimana-mana, hanya ada perang, api, dan amarah.

Aku terdiam menatap layar TV. Pikiranku berkelana ke percakapan dengan teman di kafe tepat sebelum kami mengikuti aksi. Kutatap tumbler pemberian kafe tersebut yang tergeletak di meja. De javu. Apa ini yang dirasakan oleh para pahlawan sebelum mencapai kemerdekaan? Apa ini yang dialami mahasiswa pada era 1998 ketika mereka hendak mengembalikan kesejahteraan negeri? 

Lalu mengapa, hal ini kembali terjadi di negeri ini?

Setelah diperjuangkan selama berabad-abad agar mendapatkan ketentraman bagi rakyat yang akan datang, kekacauan justru terulang kembali. 

Perpecahan tak terelakkan.

Korban jiwa berjatuhan.

Berbagai pihak saling menyalahkan. Mereka dengan egonya membela diri mengatakan dirinya lah yang paling benar.

Aparat jadi musuh rakyat.

Rakyat dianggap ancaman bagi aparat.

Pemerintah sulit dipercaya.

Rakyat dianggap hanya menyebabkan kekacauan dan tak perlu lagi didengar suaranya.

Semuanya kacau.

Negeri ini terpecah.

Perjuangan itu dikali nol. Sia-sia. 

Negeri yang dibebaskan dengan bayaran nyawa para pahlawan, perlahan-lahan kembali digerogoti oleh dosa-dosa.

Rintik hujan berderai.

Negeraku berduka.

Dengan dada yang sesak, aku berbisik lirih mengucapkan maaf kepada mereka yang telah mendahului kita.

Maaf.

Maafkan kami, yang tak sanggup menjaga negeri yang telah kalian perjuangkan dengan tetes darah penghabisan.

Maafkan kami, yang melupakan nilai-nilai pancasila yang kalian susun dengan memeras pikiran dan airmata.

Maafkan kami, yang gagal menjaga persatuan dan malah berperang dengan saudara kami sendiri.

Maafkan kami, yang begitu sulit berkaca dari perjuangan kalian dan tak sanggup menjadi pemuda bangsa yang harusnya berperan menjaga negeri. 

Maaf, kami lah penyebab ibu pertiwi yang begitu kalian cintai kini sedang merintih dan menangis.

Hujan semakin deras.

Aku menunggu sebuah pelangi akan terbit di bumi pertiwi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven − 1 =