RUMAH TUA TEPI HUTAN

0
16
Foto: Abdul Hafid Zainal

Tulisan oleh: Abdul Hafid Zainal

Bangunan tua itu sudah lama tidak digunakan. Letaknya tidak jauh dari tepi hutan, tepat di belakang lapangan tempat mereka bermain. Dindingnya sudah kusam dan lapuk. Rumah itu tampak tak pernah terurus.

“Kata bapakku, rumah itu berhantu,” kata seorang anak bertubuh paling kecil. Ia mencoba menirukan gaya bicara pembawa acara misteri yang sering ditontonnya di televisi.

Agra melihat temannya, kemudian memperhatikan sekali lagi rumah itu. Baginya, hantu itu tidak ada. Sejak kecil, ia tidak pernah percaya dengan cerita tentang hantu atau hal-hal mistis. Bagi Agra, rumah itu hanyalah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan.

“Terus siapa yang ambil bolanya?” tanya anak laki-laki bertubuh gempal.

“Ya kamu. Kan kamu yang nendang.”

“Jangan aku. Aku takut.”

“Siapa suruh nendang sekeras itu?” balas anak dengan suara melengking. “Pokoknya kamu yang ambil.”

Mereka terus saling menyuruh, tetapi tidak ada satu pun yang mau masuk.

“Sudah, biar aku saja,” kata Agra akhirnya.

Tidak ada yang menahannya. Bahkan, anak bertubuh besar tadi terlihat lega mendengar Agra bersedia mengambil bola.

Agra berjalan menuju rumah itu seorang diri. Ketika melewati pintu depan, ia baru menyadari betapa gelapnya bagian dalam rumah. Cahaya dari luar hanya masuk sedikit melalui celah-celah jendela.

Entah kenapa, ia mulai merasa tidak nyaman.

Agra terus berjalan sambil mencari bola. Dari dalam rumah tercium bau yang sangat tidak sedap. Semakin ia masuk, semakin kuat bau itu terasa. Kepalanya mulai sedikit pusing.

Ia kemudian melihat sebuah ruangan di samping lorong. Agra mencoba memeriksanya, tetapi tidak menemukan bola. Ruangan itu justru dipenuhi sampah dan sisa makanan yang sudah membusuk.

Agra segera keluar.

Di samping ruangan tersebut terdapat sebuah tangga menuju lantai atas. Ia berpikir mungkin bola itu masuk ke sana. Dengan ragu, Agra mulai menaiki tangga.

Baru beberapa langkah, ia berhenti.

Ada sepasang mata yang menatapnya dari atas.

Agra terdiam.

Seseorang berdiri di sana.

Tubuhnya membungkuk dan rambutnya panjang, hampir menutupi wajah. Tubuhnya kurus, sementara lalat beterbangan di sekitarnya. Sesekali terdengar suara aneh dari sosok itu.

Agra tidak tahu harus melakukan apa.

Kedua kakinya terasa berat. Ia ingin mundur, tetapi tubuhnya seolah tidak mau bergerak. Angin masuk melalui jendela yang terbuka dan membuat suara berdesir di dalam rumah.

Sosok itu kemudian mengeluarkan suara seperti erangan.

Agra semakin ketakutan.

“Agra! Bolanya sudah ketemu!”

Suara temannya terdengar dari bawah.

Sosok itu tiba-tiba berbalik dan bergerak menuju jendela.

Agra tidak menunggu lebih lama. Ia mundur perlahan, kemudian langsung berlari menuruni tangga dan keluar dari rumah.

Melihat Agra berlari keluar, teman-temannya ikut berlari tanpa sempat bertanya apa yang terjadi.

“Agra! Ada apa?” teriak
seorang anak dengan suara melengking.

Agra tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Kakinya terus bergerak, berusaha menjauh secepat mungkin dari rumah tua itu.

Setelah sampai di lapangan, mereka berhenti di tepi lapangan. Agra membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Napasnya masih tidak beraturan. Teman-temannya pun terlihat kelelahan setelah berlari tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah beristirahat sejenak, mereka mendekati Agra dan mengelilinginya.

“Agra, sebenarnya ada apa?”

Apa yang baru saja dilihatnya terus terbayang di kepalanya.

“Sudah kubilang, kan? Rumah itu berhantu,” kata anak yang tadi paling kecil.

Agra tidak menjawab.

Ia masih memikirkan sosok yang ada di dalam rumah tadi.

Itu bukan hantu.

Di dalam rumah itu memang ada seseorang.

Seorang pria dan seorang anak kecil.

Anak itu terbaring diam di lantai. Tubuhnya hampir tidak bergerak. Namun, ketika Agra melihatnya, anak itu menatap tepat ke arahnya.

Tatapan itu kosong.

Tatapan yang sama ketika ia menemukan anjing kesayangannya terbaring tak bernyawa.

Dan tatapan itu terus melekat di pikirannya, bahkan setelah ia meninggalkan rumah tua tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here