Mencari yang Seharusnya Ada

0
38
Foto: Sazkia Ratu Kasya

Tulisan Oleh: Nadine Arsetya Prabowo

Ada hal-hal yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari hingga sering kali tidak terpikir untuk dipertanyakan. Air yang mengalir ketika keran dibuka, gas yang digunakan untuk memasak, atau BBM yang tersedia ketika kendaraan hendak digunakan. Semuanya terasa seperti sesuatu yang seharusnya ada.

Namun, ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut mulai sulit didapat, masyarakat justru harus menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga hanya untuk mendapatkannya.

Belakangan ini, masyarakat Makassar kembali dihadapkan pada persoalan kebutuhan dasar yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Kelangkaan BBM, gas LPG, dan air bukan hanya soal sulitnya mendapatkan barang atau layanan yang dibutuhkan, tetapi juga tentang bagaimana kondisi tersebut perlahan masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Bekerja, kuliah, berdagang, memasak, hingga menjalankan kegiatan rumah tangga ikut terdampak ketika kebutuhan dasar tidak lagi mudah diperoleh.

Kelangkaan gas LPG menjadi salah satu hal yang cukup terasa, terutama bagi masyarakat yang sehari-hari mengandalkan gas untuk memasak. Hal ini juga dirasakan oleh Oma yang menjalankan Warung Abiba. Saat gas sedang langka, Oma bahkan hampir tidak bisa menjual makanan karena tidak memiliki gas untuk memasak.

Padahal, mahasiswa yang biasa datang membeli makanan di warungnya tetap membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi mereka, warung bukan hanya tempat untuk membeli makanan, tetapi juga bagian dari rutinitas yang harus tetap berjalan. Namun, rutinitas itu ikut terhambat ketika gas yang dibutuhkan untuk memasak tidak tersedia.

Untungnya, ada tetangga yang meminjamkan gas. Meskipun gas tersebut juga tinggal sedikit, Oma masih bisa memasak beberapa jenis makanan sambil menunggu sampai mendapatkan stok gas sendiri.

“Kelangkaan gas ini tidak cuma menyulitkan rumah tangga, tetapi juga bisa langsung berpengaruh sama usaha kecil dan orang-orang yang bergantung pada usaha itu juga,” jelasnya.

Apa yang dialami Oma menunjukkan bahwa ketika satu kebutuhan dasar terganggu, dampaknya tidak berhenti pada kebutuhan tersebut. Gas yang sulit didapat bisa berarti kompor yang tidak menyala, makanan yang tidak bisa dimasak, dagangan yang tidak bisa dijual, hingga penghasilan yang ikut dipertaruhkan.

Persoalan air juga memberikan dampak yang tidak kalah besar. Ibu Erni, seorang ibu rumah tangga, mengatakan bahwa air PAM atau PDAM di rumahnya sudah hampir satu minggu tidak mengalir.

“Sudah hampir satu minggu air PAM tidak mengalir, jadi sementara ambil air bor atau sumur di rumah tetangga,” ungkapnya.

Kondisi itu tentu membuat kegiatan seperti mandi, mencuci, memasak, dan membersihkan rumah menjadi lebih sulit. Hal-hal yang biasanya dilakukan tanpa banyak berpikir tiba-tiba membutuhkan cara lain untuk bisa tetap berjalan.

Ketika air tidak mengalir selama berhari-hari, masyarakat bukan hanya mengalami ketidaknyamanan. Mereka harus mencari sumber air lain, membawa air, menyesuaikan kegiatan rumah tangga, dan kembali memikirkan bagaimana kebutuhan paling dasar tetap bisa terpenuhi.

Sementara itu, persoalan BBM juga cukup ramai diperbincangkan masyarakat. Melihat berbagai unggahan di media sosial, antrean kendaraan di SPBU terlihat sudah terjadi sejak pagi buta, berlanjut siang hari ketika cuaca terik, bahkan sampai tengah malam.

Pemandangan kendaraan yang mengular seperti tidak ada habisnya ini hanya untuk mendapatkan BBM tentu bukan sesuatu yang ideal. Masyarakat membutuhkan BBM untuk kuliah, bekerja, berdagang, mengantar keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya. Ketika BBM sulit diperoleh, aktivitas yang seharusnya sederhana pun berubah menjadi persoalan yang harus dipikirkan.

Jadi, ketika harus menghabiskan berjam-jam hanya untuk mengisi bahan bakar, yang hilang bukan hanya bensin, tetapi juga waktu dan tenaga masyarakat. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja, belajar, berjualan, atau beristirahat justru habis di tengah antrean. Tenaga yang seharusnya digunakan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari harus dikeluarkan hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya menjadi bagian dari kebutuhan dasar.

Situasi ini menjadi semakin berat ketika beberapa kebutuhan dasar mengalami gangguan dalam waktu yang sama. Masyarakat akhirnya harus mencari cara masing-masing untuk bertahan. Ada yang mencari gas dari tempat lain, meminjam kepada tetangga, mengambil air dari sumur, hingga rela menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU.

Pada akhirnya, masyarakat belajar untuk beradaptasi dengan keadaan yang sebenarnya tidak mereka pilih. Mereka mencari alternatif bukan karena keadaan tersebut mudah, tetapi karena kebutuhan tetap harus dipenuhi.

Mereka tentu bisa memahami bahwa gangguan dalam penyediaan kebutuhan dasar dapat terjadi sewaktu-waktu. Namun, pemahaman tersebut tidak berarti masyarakat tidak membutuhkan kepastian. Ada kehidupan yang harus terus berjalan di balik setiap antrean, setiap tabung gas yang dicari, dan setiap ember air yang harus diambil dari tempat lain.

Makassar dan wilayah lain yang mengalami persoalan serupa tentu diharapkan dapat segera kembali normal. Stok BBM dan gas semoga kembali mudah diperoleh dan aliran air dapat kembali lancar.

Sebab, masyarakat tidak seharusnya menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk mencari kebutuhan dasar. Mereka juga ingin bekerja, kuliah, berjualan, mengurus keluarga, dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan tenang.

Kebutuhan dasar seharusnya menjadi sesuatu yang dapat diandalkan. Sesuatu yang hadir tanpa harus dicari dengan mengorbankan waktu dan tenaga. Bukan sesuatu yang membuat masyarakat harus memikirkan cara bertahan untuk hari ini, sambil kembali bertanya untuk hari esok,

“Besok masih ada atau tidak?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here