Ketika Rumah Kembali Bersuara

0
40
Foto oleh: Nadine Arsetya Prabowo

Tulisan oleh: Nadine Arsetya Prabowo

“Pulangnya kapan?”

Pertanyaan yang hampir selalu menjadi penutup di setiap percakapan melalui telepon. Setelah layar ponsel mati, suasana rumah kembali larut dalam keheningan. Hanya ada bunyi jarum jam dan suara angin yang membuat daun-daun pohon seperti saling bergesekan.
Hari-hari berlalu seperti biasa, sampai suatu siang terdengar suara kendaraan yang berhenti tepat di depan rumah.

Mbah… Mbah…! Suara itu terdengar tak lama setelah mobil berhenti. Tugiyem yang sedang menyapu halaman spontan menoleh. Seorang cucu berlari turun dari mobil, disusul anak dan anggota keluarga lain yang membawa beberapa tas. Ekspresi wajah yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi ceria. Rumah yang selama ini tampak sepi akhirnya menyambut kembali mereka yang baru saja pulang dari perantauan.

Suara tawa memecah keheningan rumah yang selama berbulan-bulan hanya ditemani desir angin. Dari ruang tamu hingga teras, obrolan saling bersahutan, diselingi canda yang membuat sepasang lansia itu tak henti-hentinya tertawa. Bagi mereka, rumah akhirnya kembali terasa seperti rumah.

“Saya senang sekali kalau cucu-cucu di sini, rumah jadi ramai, apalagi kalau mereka bicara kadang heboh banget,” ujar Tugiyem.

Kisah Tugiyem menjadi potret urbanisasi yang banyak dialami keluarga di desa. Kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik mendorong banyak anak meninggalkan kampung halaman untuk merantau dan menetap di kota. Keputusan itu membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik, tetapi juga perlahan mengubah makna rumah bagi keluarga yang ditinggalkan. Di desa, Tugiyem dan suaminya menjalani hari-hari dengan rutinitas yang sama, sementara rumah yang dulu ramai perlahan menjadi sunyi. Mereka menunggu waktu ketika anak dan cucu pulang, membawa kembali suara-suara yang sempat hilang.

“Demi pendidikan anak dan keadaan ekonomi yang memaksa karena kualitas di kota jauh lebih baik dibandingkan di desa,” ungkap anak Tugiyem.

Momen untuk berkumpul bersama tidak datang setiap waktu. Anak dan cucu-cucunya hanya memiliki kesempatan untuk kembali ke desa sekali dalam setahun, menantikan datangnya libur semester.

Kesempatan itu menjadi waktu yang paling dinantikan karena mereka dapat menghabiskan waktu bersama selama kurang lebih satu bulan.

“Ke sini paling sekali setahun karena merantaunya jauh dan kalau di rumah kadang sampai sebulanan,” jelas Tugiyem.

Bagi Tugiyem dan suaminya, satu bulan itu terasa begitu berharga. Setelahnya, rumah kembali sunyi seperti semula. Telepon dan panggilan video menjadi penghubung jarak, sementara kerinduan harus disimpan hingga musim liburan berikutnya tiba.

Urbanisasi memang membuka jalan menuju pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik. Namun, di balik perpindahan itu, ada rumah-rumah di desa yang perlahan kehilangan riuhnya. Bagi Tugiyem, kepulangan anak dan cucu bukan sekadar momen liburan, melainkan saat ketika rumah kembali menemukan suaranya. Ketika mereka kembali merantau, yang tersisa hanyalah keheningan dan harapan agar musim liburan berikutnya segera datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here